Ulama Kalam Baru Itu Berani Melawan Hegemoni Barat

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M:

Pagi ini, saya membaca buku Syarhul Maqasid jilid 3 karya Imam Tiftazani (712-793 H) Syarhul Maqashid adalah buku ilmu kalam mutaakhirin yang sangat ternama. Di dalamnya mengaji detail-detail kalam, dari mukadimah kalam yang berupa logika arestotelian, wujud, ketuhanan, kenabian hingga persoalan yang terkait dengan jiwa dan etika. Ia mengkaji alam fisik dan juga metafisik dengan sangat rapi dan mendetail.

Ilmu kalam mutaakhir memang mirip dengan filsafat. Baca kitab-kitab kalam mutaakhirin, tidak ada bedanya dengan membaca buku filsafat secara umum. Meski demikian, terdapat perbedaan yang sangat mendasar, yaitu dari sisi sumber ilmu pengetahuan (epistemologi) dan nilai dari ilmu pengtahuan (aksiologi).

Dari sisi pertama, kalam berpijak pada nas al-Quran. Berbagai pemahaman kritis terhadap alam raya dan kajian sangat mendetail terhadap alam fisik, berpijak dari upaya rasionalisasi nas al-Quran. Jadi, al-Quran atau wahyu adalah sumber dari ilmu pengetahuan.

Dari sisi kedua, bahwa ilmu tidak bebas nilai. Ilmu bagi ulama kalam sesungguhnya sekadar setitik anugerah Allah yg diberikan kepada umat manusia. Tujuan pemberian ilmu pengetahuan ini, untuk mengemban amanat yang sangat besar, yaitu membangun peradaban di muka bumi. Karena tugas berat ini, maka manusia dijuluki sebagai khalifatullah.

Tugas peradaban tidak Akan lepas dari ilmu pengetahuan. Maka bekal pertama yang diberikan Allah kepada bapak manusia, Adam as adalah ilmu pengetahuan Dan dengan ilmu ini, Allah perintahkan seluruh malaikat dan iblis utk sujud hormat kepada Adam

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:` Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar! `(QS. 2:31

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (34)
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:` Sujudlah kamu kepada Adam, `maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takbur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.(QS. 2:34

Peradaban yang dimaksud adalah peradaban rabbani, yaitu membangun manusia seutuhnya (insan kamil), yang memadukan antara kebutuhan jasmani dan ruhani, materiil dan spirituil. Peradaban yang berorientasi kepada nilai ketuhanan dengan menjadikan hukum Tuhan sebagai acuan dalam menentukan kebijakan dalam berbagai aktivitas manusia. Juga peradaban yang mengusung dua kebahagiaan, yaitu dunia dan akhirat.

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya :
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.

Banyak yang menuding bahwa kalam anti ilmu pengetahuan. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi dengan mengatakan bahwa ilmu kalam menjadi sebab mundurnya ilmu pengetahuan. Mereka yang berpendapat demikian, hampir bisa dipastikn belum pernah membaca kitab-kitab kalam, atau jika membaca tidak tuntas. Ia sekadar membuka satu dua artikel, lalu bersegera memberikan kesimpulan.

Jika kita membuka kitab Syarhu Maqashid, sebagai salah satu representasi buku kalam mutaakhirin, kita akan mendapatkan bahasan ilmu eksakta yang sangat banyak dan detail. Di dalamnya membahas tentang atom, gerak benda, diam, ruang hampa, kosmologi, pergerakan bumi, perubahan musim, bahkan anatomi tubuh manusia pun dibahas secara mendetail. Membaca kalam layaknya membaca ensiklopedi ilmu pengetahuan.

Bukankah ulama kalam menentang teori sebab akibat? Lantas dari mana dan bagaimana ilmu pengetahuan dibangun tanpa pengakuan sebab akibat? Benar bahwa mereka menolak sebab akibat. Namun sejatinya, penolakan mereka lebih bersifat filosofis.

Menggunakan teori sebab akibat terkait dengan pergerakan benda di jagat raya ini, bagi ulama kalam dapat menjerumuskan manusia pada sikap “mentuhankan” benda. Bagi ulama kalam, semua pergerakan alam fisik ini, sesungguhnya adalah karena kehendak Allah semata. Benda mati, sama sekali tidak mempunya kekuatan untuk melakukan sesuatu apapun. Semua berdasarkan keinginan mutlak Yangmaha Kuasa.

Sebagai gantinya, ulama kalam menggunakan istilah al adah al-mutradah, yaitu kebiasaan yang berulang dan terjadi di alam fisik. Kebiasaan inilah yang memungkinkan ulama kalam melakukan berbagai penelitian ilmiah untuk menyingkap rahasia alam.

Sikap ulama kalam itu, karena pijakan wahyu dankeyakinan bahwa hanya Allah lah Yang Maha Berkehendak. Allah Tuhan yang mempunyai segala kuasa.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Artinya: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syura: 49-50)

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Artinya: Dia Pelaksana bagi apa yang Dia inginkan. (QS. Al-Buruj: 16)

Para ulama kalam telah memberikan contoh baik kepada ilmuan muslim untuk selalu melakukan riset ilmiah dengan pijakan wahyu. Jadi, ilmu yang dihasilkan tidak akan bebas nilai. Ilmu tetap mempunyai orientasi ketuhanan.

Dengan kesadaran sebagai khalifatullah tadi, maka ilmu yang dihasilkan juga akan dipergunakan untuk kemaslahatan umat manusia. uama kalam sangat menyadari bahwa Ilmu datang dari Allah untuk manusia dan demi kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Ulama kalam telah memberikan teladan yang baik terkait pandangan mereka terhadap ilmu pengetahuan, tujuan dan etika ilmu pengetahuan. Ilmu yang sekadar untuk ilmu hanya akan menghancurkan umat manusia. Ilmu yang lepas dari bingkai ketuhanan hanya akan menjadikan ilmuan bersikap atheis dan mentuhankan materi.

Ilmu seperti ini justru akan menghancurkan umat manusia. Ilmu yang membuat Irak, Afghanistan, Suria dan belahan dunia lainnya porakporanda. Ilmu yang menjadikan kapitalisme global sebagai penguasa Dunia. Maka muncullah berbagai terma menyesatkan dan materialistis, seperti sejarah telah berahir, kata Fukuyama. Saatnya perang peradaban, kata Huntington. Dunia mengikuti teori seleksi alam, kata Darwin. Manusia sebagai pusat ego, kata Jean-Paul Sartre. Tuhan sudah mati, Kata Nietzsch. Aktivitas dunia merupakan wujud dari dialektika materi, kata Karl Marx. Aktivitas manusia sejak dini digerakkan oleh nafsu seksnya, kata Sigmund Freud. Hukum sejatinya merupakan hasil kesepakatan bersama, kata Roso.

Jadi, Tuhan sama sekali tidak ada hubungannya dengan aktivitas manusia. Tuhan telah beristirahat. Manusia atau materi beralih fungsi menjadi Tuhan-tuhan baru menggantikan posisi Tuhan yang bahkan sudah mati.

Maka tidak heran jika kapitalisme global menghisap ekonomi lemah dari negara-negara ketiga. Bukan sekadar menjerat negara ketiga dengan sistem ribawinya, namun akan menghancurkan dan meluluhlantakkan bangsa lain, jika itu memang dapat memenuhi ambisi mereka. Semua, bagi mereka adalah legal dan harus dilakukan.

Berbagai kekacauan dan pertumpahan darah di belahan bumi tidak pernah lepas dari tangan-tangan kapitalis. Semua diakibatkan karena keganasan manusia untuk memuaskan diri sendiri dan menganggap segalanya di dunia ini dari kacamata materi.

Ulama kalam mengajarkan kepada kita, bahwa segalanya datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Ulama kalam memberikan teladan mengenai tata cara kita memandang dunia. Ulama kalam mengajarkan kita untuk mengenal posisi kita di muka bumi, yang sekadar sebagai hamba Allah saja.

Sayangnya, apa yang telah diajarkan panjang lebar oleh ulama kalam itu, saat ini seakan sirna. Barat dijadikan sebagai rujukan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, termasuk tata nilai. Barat menjadi simbul komodernan. Umat menginduk apapun yang datang dari Barat. Bahkan untuk mengatur ekopnomi umat dan cara berpolitikpun, harus belajar dari Barat. Seakan-akan kita tidak pernah belajar fikih. Seakan-akan turas Islam kosong dari berbagai cabang ilmu tersebut.

Padahal turas islam sangat melimpah. Ilmu yang diajarkan di pesantren, berhentik sampai buku saja. Karena dalam kehidupan, tata nilai yang diterapkan oleh umat, berbeda dengan kitab-kitab yang mereka baca itu.

Umat terninabobokkan dengan peradaban Barat modern. Kita menjadi bangsa subodordinat. Apalagi dengan kekuatan media, seperti TV dan internet, semua informasi menjadi super cepat. Nilai-nilai Barat dapat dengan mudah masuk kedalam pribadi setiap insan muslim tanpa banyak hambatan. Maka dengan mudah juga umat mengikuti tata nilai mereka. Hidup menjadi hidonis dan pemikirannya hanya berorientasi kepada materi. Tidak heran jika para pejabat kita korup. Jabatan sekadar dijadikan sebagai bancakan untuk menumpuk materi. Padahal mereka in shalat, puasa, dan bahkan berhaji hingga puluhan kali.

Tuhan hanya ditaruh dipojak masjid. Keluar dari tempat ibadah, maka ikut keluar pula Tuhan dari hati mereka. Kehidupan insan muslim benar-benar sangat sekuler. Segala sesuatu selalu didasarkan pada kalkulasi matematik yang bersifat materi. Egoisme dan individualisme menjadi ciri tak terpisahkan manusia modern. Dan itu diikuti oleh umat Islam. Pembakaran hutan pun mereka lakukan, meski mengorbankan banyak jiwa, menghambat aktivitas ekonomi, merusak ekosistem dan kerugian lainnya, demi mengejar materi.

Di sini, benar kata rasulullahs aw bahwa kita akan selalu mengikuti orang lain.

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ
قُلنا : يا رسولَ اللهِ ! اليهودُ والنَّصارَى ؟ قال :فمَن ؟
“Sungguh, kalian akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelummu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sehingga jika mereka masuk masuk ke lubang dhob pun, pasti kamu akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, mereka itu Yahudi dan Nasara?” Nabi sallAllahu `alaihi wasallam menjawab: “Lalu siapa lagi?” (HR Muslim)

Saatnya ulama kalam bangkit untuk melawan hegemoni peradaban Barat. Ulama kalam yang dapat meluruskan kiblat ilmu dari Barat menuju Islam. Ulama kalam yang menyadarkan umat agar bangun dan tidak terlalu lama terlelap dalam mimpi-mimpi yang penuh dengan ilusi.
Nama tidak harus sama dengan menyebut mereka sebagai ulama kalam, namun prinsip yang diemban adalah sama seperti yang digariskan para ulama kalam. Mereka ini sejatinya adalah para ulama kalam baru. Wallahu a’lam