Perbedaan Antara Ilmu Kalam dan Filsafat

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M:

Jika kita membaca buku-buku ilmu kalam, kita akan menemukan bahasan yang sangat filosofis. Apalagi buku-buku ilmu kalam mutaakhirin, hampir tidak bisa dibedakan antara bahasan kalam dan filsafat. Meski demikian, terdapat perbedaan mendasar antara kalam dan filsafat, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Dari sisi episteme, ilmu kalam berpijak dari wahyu (baca: al-Quran dan sunnah. Meski demikian dalam rangka menyampaikan kandungan kitab suci tadi, para mutakallimun tidak langsung menggunakan dalil naqli. Alasannya bahwa tujuan awal diletakkannya ilmu kalam adalah untuk melawan para penganut aliran kepercayaan pada waktu itu, para filsuf atheis (dahriyun), kaum Manawi, Kristen, Yahudi dan lain sebagainya yang tidak mempercayai kitab suci al-Quran dan hadis nabi. Jika ketika berdebat dengan mereka yang digunakan oleh para mutakalimun dengan dalil naql, tidak ada gunanya. Sedari awal mereka tidak percaya dengan dalil naql. Oleh karenanya, para ulama kalam menggunakan dalil akal (logika). Hal itu, karena para filsuf non muslim itu juga menggunakan logika. Jaid, senjata yang digunakan ulama kalam adalah sama, yaitu logika. Di sini, logika dijadikan sebagai sarana dan alat bantu untuk memperkuat dalil naqli.

 

Ini berbeda dengan filsafa. Mereka tidak berpijak pada dalil naqli. Para filsuf ini “pemikir bebas” dengan “logika bebas” sesuai dengan alirannya masing-masing. Dari sini muncullah berbagai aliran filsafat, seperti rasionalisme, empirisme, eksistensialisme, nihilism, dan lain sebagainya. Dalam Islam pun, ada banyak para filsuf muslim dengan alirannya masing-masing, seperti Ibnu Sina, Sahruwardi, Imam Ghazali, Ibnu Tufail, Ibnu Rusd dan lain sebagainya.

 

  1. Dari sisi sejarah, ilmu kalam muncul di dunia Islam. Bermula dari konflik politik, lalu berkembang menjadi sebuah bangunan pemikiran yang utuh. Jadi ilmu kalam lahir dan berkembang murni dari rahim umat Islam. Sementara itu, filsafat tidak demikian.

Menurut Abbas Mahmud al-Aqqad, bahwa “setiap ilmu ada sisi filsafatnya”. Artinya bahwa filsafat ada di setiap cabang ilmu. Filsafat juga ada di setiap bangsa. Sebelum Islam datang, filsafat sudah berkembang di berbagai bangsa dunia, seperti India, Persia, Mesir China, dan lain sebagainya. Hanya saja, yang terbukukan secara rapi dan banyak mempengaruhi para filsuf muslim adalah aliran filsafat dari Yunani. Artinya, filsafat bukan monopoli sebuah kelompok tertentu saja, namun ia umum di di setiap komunitas dalam suatu masyarakat.

 

  1. Dari sisi tujuan, ilmu kalam mempunyai dua tujuan penting, pertama membela akidah Islam dari serangan musuh. Kedua, menyerang aliran kepercayaan lawan sehingga mereka bisa tunduk dan mengakui mengenai kebenaran Islam. Para ulama kalam umumnya adalah para orator ulung. Mereka pandai dalam berdebat. Bahkan mereka meletakkan ilmu khusus terkait dengan debat ini, yang dikenal dengan “ilmu jadal wal munazharah”. Mereka bukan hanya mahir debat di hadapan publik, namun juga lihai dalam debat secara tertulis. Buku-buku kalam penuh dengan argumentasi logis yang selalu berusaha mematahkan pemikiran lawan dan menguatkan pemikiran kelompoknya.

Tentu ini berbeda dengan filsafat. Tujuan utamanya adalah “kajian secara bebas”. Ia tidak berangkat dari ideologi tertentu. Ia murni berasal dari pemikir sang filsuf. Makanya kita sering menemukan para filsuf “nyleneh” yang secara pemikiran bertentangan dengan logika kemanusiaan. Lihat saja misalnya, Karl  Max, Darwin (yang melahirkan paham darwinisme pemikiran),  Jean-Paul Sartre dan lain sebagainya. Aliran filsafat yang mereka usung bukan untuk memawa kebaikan, namun justru kesengsaraan bagi umat manusia.

Barangkali itu sebagian dari perbedaan mendasar antara filsafat dengan kalam. Wallahu alam.