Kita Butuh Ilmu Kalam Baru

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M:

1. Pembentengi akidah umat dari gempuran kepercayaan non muslim, seperti Majusi, Manawi, Dahriyun, Yahudi, Kristen dan lain sebagainya.
2. Menyerang kepercayaan musuh dengan berpijak pada al-Quran dan menggunakan senjata logika aristetolian untuk mematahkan keyakinan mereka. Tujuannya, mereka menyadari kesalahannya dan tuntuk terhadap akidah Islam.

Dari sisi subtansi:
Umumnya yang dipersoalkan oleh para musuh Islam pada waktu itu terkait dengan eksistensi Tuhan, termasuk di dalamnya menyangkut keesaan Tuhan, tempat bersemayam Tuhan, sifat Tuhan dan lain-lain.

 

Dahriyun ingkar dengan Tuhan dan hanya percaya dengan kehidupan dunia. Mereka menyerang umat Islam dengan logika materialisme klasik. Majusi percaya dengan adanya dua Tuhan, yaitu Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan. Sementara itu, kaum nasrani percaya dengan Trinitas.

Tentu ini menjadi tugas para mutakallimun untuk dapat menghadang berbagai pemikiran sesat tersebut. Dengan demikian, umat tidak terperosok ke dalam jurang kesesatan. Apalagi waktu itu banyak juga umat Islam yang masih baru. Minimal mereka hidup dilingkungan yang dulunya merupakan peninggalan peradaban besar Persia dan Romawi. Pengaruh kepercayaan nenek moyang tidak serta merta sirna begitu saja.

Di tambah lagi, para intelektual non muslim tadi, tidak rela begitu saja kepercayaan nenek moyang dihapus dan digantikan dengan akidah Islam. Dendam untuk mengembalikan peradaban nenek moyang tetap saja ada. Mereka-mereka ini, ada yang terang-terangan memusuhi Islam, ada juga mengaku sebagai umat Islam, namun di dalam membuat masalah.

Untuk menghancurkan negara Islam, hampir tidak mungkin. Kekhalifahan Islam sangat kuat. Ia adalah negara adikuasa di zamannya. Maka yang diserang adalah akidah umat. Para mutakallimun terpanggil untuk membentengi akidah umat. Mereka berupaya menjawab berbagai syubhah (perkataan miring) seputar akidah Islam.
Waktu itu, lawan menggunakan teori-teori alam fisik untuk menafikan keberadaan alam metafisik. Ulama kalam pun membalikkan fakta dan menggunakan bukti alam fisik untuk menunjukkan keberadaan alam metafisik. Ulama kalam lantas membahas ruang, waktu, gerak, diam, ruang hampa, atom, gerak atom, dan pembahasan alam fisik lainnya.
Dari sisi penyampaian:
para musuh Islam menggunakan logika aristetolian untuk menyerang akidah Islam. Maka para ulama kalam pun melawan mereka dengan senjata yang sama. Mereka menggunakan logika Aristetolian yang bertumpu pada premis yang bersifat aksiomatis. Memang, ilmu debat (ilmu jadal) dengan logika aristetolian pada waktu itu sedang ngetren. Baik yang pro atau kontra terhadap suatu permasalahan, selalu mengandalkan logika aristetolian. Ia dianggap senjata paling mumpuni untuk mematahkan argumen lawan.

Pertanyaannya, apakah ilmu kalam klasik masih relevan dengan persoalan kontemporer?

Coba kita bandingkan terlebih dahulu antara permasalahan dahulu dan sekarang. Jika kita teliti, ternyata masih banyak sisi kesamaan:

1. Dari sisi materi, musuh islam, baik yang dulu atau yang sekarang, sama-sama menyerang akidah Islam.

2. Musuh dulu minimal adalah Majusi, Manawi, Dahriyun,  Nasrani, dan Yahudi.

Untuk saat ini, Manawi dan Majusi sudah tidak ada lagi. Tapi yang lainnya masih tetap eksis. Dahriyun menjelma menjadi berbagai paham filsafat modern. Dahriyun adalah kelompok yang hanya percaya dengan kehidupan dunia dan menafikan kehidupan akhirat. Mereka juga menafikan keberadaan Tuhan. Banyak filsafat modern saat ini, hanya bertumpu pada pemahaman materi semata dan menafikan sesuatu yang di luar materi. Beda nama, namun esensi tetap sama.

Yahudi menyerang dari berbagai sisi. Globalisasi, demokrasi liberal, materialisme dan seabrek filsafat modern, selalu dimotori dan digerakkan oleh tangan-tangan Yahudi. Sementara itu, orang Nasrani giat dengan gerakan kristenisasinya.

3. Dulu, musuh islam menggunakan alam fisika untuk menafikan alam metafisik. Ini hakekatnya juga sama dengan filsafat materialisme modern yang menggunakan teori alam fisik untuk menafikan alam metafisik. Pemahaman seperti ini sangat jelas sekali jika kita membaca pemikiran filsuf Barat seperti dialektika materialis marxis dan paham darwinisme.

Lantas, apa yang membedakan?
1. Yang membedakan adalah argumentasi yang digunakan. Mereka memperbaharuhi argumentasi alam fisik sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan moder. Para musuh Islam itu masih membahas tentang atom, awal mula penciptaan alam, alam materi, dan seabrek argumen fisik lainnya, tujuannya adalah untuk menafikan alam metafisik.

Selain itu, mereka merambah kepada tema lain, terkait dengan sistem sosial, psikologi, politik dan lains ebagainya. Semua dibangun di atas landasan materialism. Dalam berinteraksi dengan sesama, yang dipakai adalah teori darwin dengan seleksi alamnya. Artinya, siapapun yang kuat, maka ia yang akan mengasai dunia. Atau, mengikuti paham eksistensialisme yang menjadikan individu sebagai Tuhan baru. Mereka juga menggunakan terma “benturan peradaban” seperti yang pernah ditulis oleh Samuel P. Huntington untuk melibas peradaban lain yang tidak sesuai dengan peradaban Barat. Demokrasi liberal menjadi Tuhan baru dalam berpolitik. Ekonomi kapitalis menjadi system ekonomi tunggal yang harus dilaksanakan oleh semua Negara dunia, karena “Dunia telah berakhir” seperti yang ditulis oleh Francis Fukuyama

. .

 

2. Dari sisi metode penyampaian, ulama dulu menggunakan manhaj jadal (metode debat) dengan bertumpu pada logika aristetolian. Saat ini, sudah tidak laku lagi menulis dengan model ini. Sudah ada cara penulisan karya ilmiah yang lebih terpercaya.

Untuk itu, para mutakallim kontemporer juga harus menyesuaikan diri. Mutakallim sudah tidak waktunya lagi menggunakan logika aresto sebagai basic penulisan. Mereka harus mampu menyampaikan dengan logika modern. Dengan demikian, apa yang mereka tulis, juga dapat diterima sesuai dengan konteks kekinian.

3. Dari sisi kerapian penulisan, juga sudah harus sesuai dengan gaya penulisan modern. Jika dulu tidak ada daftar isi, tidak ada paragraf, tidak ada titik koma, rujukan juga diselipkan di dalam tulisan, maka penulisan ilmu kalam saat ini, harus lebih disesuaikan dengan EYD. Sistem penulisan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kita saat ini.

 

 

Inilah yang kami maksudkan dengan ilmu kalam baru. Dengan demikian, ilmu kalam tetap bisa eksis dan mampu menjawab dan membentengi akidah umat dari rong-rongan musuh-musuh Islam. (www.almuflihun.com)

BAGIKAN
Berita sebelumyaKemendikbud : Beri Sanksi Keras Untuk Pembuat Soal Sentimen SARA
Berita berikutnyaInilah Rundwon Acara KOKAM “Kawal KPK Berani”