Jejak Langkah Fahri Hamzah, 12 Tahun Belajar di Sekolah Muhammadiyah

SangPencerah.id– Diantara nama populer yang aktif di blantika politik Indonesia, satu diantaranya  adalah Fahri Hamzah. Kritis, vokal dan tak gentar menghadapi lawan politik, begitulah gambaran sosok yang kerap menjadi perhatian publik.

Lahir di Utan Sumbawa Besar, 10 Oktober 1971, Fahri Hamzah adalah anak seorang petani. Fahri kecil tumbuh menjadi anak yang sehat, periang, dan suka bermain. Ia dibesarkan  di lingkungan keluarga dan masyarakat yang sangat religius. Mayoritas lingkungannya pun Muhammadiyah. Tak salah bila kemudian orang tuanya menyekolahkannya di sekolah Muhammadiyah.

Mengawali pendidikan formalnya, Fahri berlajar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, tahun 1978. Ia siswa yang cerdas. Selalu menempati ranking pertama di kelasnya hingga lulus SMA. Hampir semua pelajaran di sekolahnya ia suka, terutama mata pelajaran bahasa Indonesia.

Setamat MI tahun 1984, Fahri melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Sumbawa. Prestasi cemerlangnya terus berlanjut di SMP yang tak jauh dari rumahnya. Waktu terus begulir mengganti hari-hari Fahri di kampung. Tahun 1987 lulus SMP dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah. Dari MI sampai SMA, Fahri selalu sekolah di Muhammadiyah.

Layaknya anak-anak yang lain, Fahri kecil juga memiliki kenakalan. Sosok yang paling sering memarahi Fahri adalah Mala, seorang guru matematika. Menurut Fahri, berbagai tindakannya kerap membuat Mala marah, mulai dari telat mengikuti pelajaran di kelas hingga bercanda saat upacara bendera.

Meski kerap dimarahi, Fahri tidak pernah menaruh rasa benci, apalagi dendam kepada Mala. Dia justru melihat bentuk marah gurunya itu sebagai tanda cinta dan kasih sayang. Fahri pun mengaku sampai saat ini masih sering bertemu Mala dan beberapa guru-guru lainnya saat pulang ke Sumbawa. Kesejahteraan mereka masih memprihatinkan, tak jauh berbeda dibanding saat ia bersekolah dulu.

Selama belajar di SMP hingga SMA, Fahri sudah memahami pentingnya bahasa asing untuk meningkatkan kapasitas pergaulannya kelak. Setamat SMA Tahun 1990, Fahri kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, NTB. Fakultas itu yang terbaik dan favorit di kampusnya. Masa kuliah di NTB tak menyenangkan hati Fahri. Ia merasa terkungkung oleh lingkungan yang membuatnya jenuh.

Tak ada kemajuan berarti dari sisi peningkatan intelektualitas dan pergaulan. Ia ingin bergaul dengan orang-orang besar di Kota Jakarta. Atas saran kawan kuliahnya, Fahri diminta mendaftar kuliah di UI, Jakarta. Fahri kemudian mengikuti bimbingan belajar kembali, agar bisa lulus tes perguruan tinggi ternama di Indonesia itu.

Keinginan merantau ke Jakarta sudah tak terbendung. Tekad sudah kuat. Tetapi, masih ada yang mengganjal niatnya itu. Ibundanya merasa berat hati, bila Fahri harus meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Apalagi, di rumahnya anak laki-laki cuma dua orang selebihnya perempuan.

Tak ketinggalan, ia juga membina taman kanak-kanak di masjidnya. Bahkan, anak-anak jalanan di sekitar kampus, dia bina pula. Pemuda Fahri bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Apalagi, penguasaan bahasa asing dan kepiawaiannya berkomunikasi, membuatnya begitu mudah bergaul dengan kalangan elit terdidik di Jakarta. Di kampus, Fahri dan kawan-kawan aktivis pers mahasiswa, aktif menerbitkan Warta UI, koran kampus yang sangat kritis. Koran tersebut kemudian dibredel karena menulis sisi gelap rektorat.

Selain di pers mahasiswa, Fahri juga pernah menjadi Humas dan Ketua Litbang, Senat Mahasiswa UI. Di Fakultasnya sendiri, Fahri adalah pendiri Forum Studi Islam FE UI. Di luar kampus, Fahri sempat magang menjadi wartawan untuk beberapa media, seperti Republika dan Suara Hidayatullah.

Lulus kuliah pada 1996, Fahri langsung bekerja di Program Extension FE UI. Di situ ia menyusun program perkuliahan sebagai staf pimpinan. Bersama Fahri, ada Zulkiflimansyah dan Mustafa Kamal yang sama-sama direkrut menjadi staf dan kini menjadi kawan satu partai di PKS.

Oleh Direktur Program, Fahri sering ditugaskan mencari dosen untuk mengajar di program tersebut. Di antara para dosen yang ia tugaskan mengajar adalah Jero Wacik mantan Menteri ESDM dan Anis Matta Presiden PKS sekarang. Sambil bekerja di Program Extension, Fahri juga melanjutkan studi magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, akhir 1997.

Saat reformasi bergulir, Fahri menggagas berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Dia sebagai deklarator sekaligus ketua umum pertama. Bersama tokoh reformasi Amien Rais, Fahri berkeliling kota menghadiri berbagai pertemuan dan demonstrasi untuk menyuarakan pentingnya suksesi kepemimpinan nasional.

Aktif dalam gerakan reformasi mengantarnya ke panggung politik. Tahun 1998-1999, Fahri diangkat menjadi Anggota MPR RI. Dunia politik sudah tak asing bagi mantan Ketua Departemen Pengembangan Pemuda ICMI ini. Ia benar-benar terjun ke dunia politik secara total bersama Partai Keadailan (PK) sejak 1998 yang dideklarasikan bersama tokoh-tokoh yang sekarang menjadi PKS.

Tiga kali pemilu secara berturut-turut, Politisi PKS paling populer ini melenggang ke Senayan sebagai wakil rakyat dari dapil NTB. Periode pertama pada 2004-2009 dan dilanjutkan pada 2009-2014. Pada 2014-2019 merupakan periode ketiganya di DPR.

Meskipun kini sosok Fahri telah menjadi orang besar, tak pernah sekalipun ia melupakan almamaternya saat ia menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah. Beberapa kali ia mengunjungi dan memberikan bantuan pada sekolah Muhammadiyah dikampung halamannya. Tempat ia belajar dulu.

(Baca : Lulusan SD Muhammadiyah Palembang Ini, Kini Menjadi Seorang Menteri) dan (Diusung PDIP, Aktivis Nasyiatul ‘Aisyiyah Ini Sukses Menjadi Ketua DPRD)

Saat pembangunan Klinik Muhammadiyah Surya Medika di Sumbawa tahun lalu, Fahri Hamzah pun sangat peduli pada perjuangan  ini. Klinik ini dibangun di eks.SMA Muhammadiyah Sumbawa, tempat fahri belajar dulu yang kini sudah direlokasi dan menyimpan banyak kenangan. Ia pun memberikan bantuan ambulan untuk klinik serta memberikan gaji untuk  mempercepat pembangunan klinik Surya Medika. (Berita terkait: Klinik Surya Medika, Nasionalisme Muhammadiyah di Tanah Sumbawa)

Di perjalanan panjang hidupnya, kepada redaksi SangPencerah.id Fahri Hamzah mengaku bangga dan bersyukur pernah dibesarkan di pendidikan Muhammadiyah. Ruang yang telah mencetaknya menjadi sosok generasi berkemajuan, yang konsisten untuk menyuarakan Islam dan kebangsaan. (sp/red)

BAGIKAN
Berita sebelumyaPemuda Muhammadiyah Peringatkan Ernest Jangan Nyinyir Terhadap Islam
Berita berikutnyaTanya Kaedah Fikih