Dua Piranti Penting Sebelum Belajar Ilmu Kalam; Kiyas Tamtsili dan Logika Aristoteles

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M:

Ilmu kalam menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang murni berasal dari umat Islam. Ilmu ini muncul dengan dua tujuan, menjaga akidah Islam dan menyerang akidah lawan dengan melihat sisi-sisi kelemahan atas kepercayaan mereka. Ilmu kalam menjadi “senjata ampuh” untuk melawan berbagai penyimpangan kepercayaan yang dianut oleh non muslim.

 

Ilmu kalam bertumpu pada dua hal sekaligus, yaitu teks dan logika. Teks sebagai pijakan awal kebenaran, sementara logika sebagai sarana pembantu untuk menguatkan kebenaran teks. Di sini, peran logika menjadi sangat penting.

 

Logika di sini perannya adalah untuk rasionalitas teks-teks al-Quran. Mengapa demikian? Karena yang dihadapi oleh para mutakallimun generasi awal adalah orang-orang yang tidak percaya dengan teks al-Quran dan hanya percaya dengan kebenaran logika, sehingga untuk menghadapi mereka juga butuh ilmu logika. Jadi, teks al-Quran saja tidak cukup untuk menghadapi mereka.

 

Dalam perkembangannya, ilmu kalam tidak hanya untuk menyerang kaum non muslim, karena kenyataannya, di lungkungan kalam sendiri muncul banyak aliran. Setiap aliran kalam mengklaim kebenaran dengan sandaran logika. Ilmu logika menjadi sarana efektif untuk justifikasi kebenaran bagi setiap aliran kalam serta sebagai senjata untuk menghadapi aliran kalam lain yang berseberangan dengan mazhabnya.

 

Untuk rasionalisasi teks-teks al-Quran, setidaknya ada dua macam ilmu logika yang digunakan oleh para ulama kalam, pertama kiyas tamtsili atau kiyas ghaib ala-Syahid, kedua logika Aristeteles.

 

Kiyas tamtsili atau kiyas ghaib ala Syahid bertumpu pada empat syarat, yaitu asal, cabang, hukum dan illat. Jika melihat empat syarat tadi, nampak sekali kemiripan kiyas ini dengan kiyas yang biasa digunakan oleh ulama ushul. Perbedaannya, jika ulama ushul bergerak dalam ranah hukum fikih, sementara para mutakallimun bergerak dalam ranah kalam. Jika ulama ushul ingin mencari kebenaran kasus yang belum ada dalam nas dengan mengacu pada nas, maka ulama kalam menggunakan kiyas tamtsili untuk menjustifikasikan kebenaran metafisik (Tuhan) dengan mengacu kepada kebenaran alam fisik (makhluk). Oleh karena kesamaa itu, maka kiyas tamtshili atau kiyas ghaib ala syahid juga sering disebut dengan kiyas ushuli.

 

Jadi, kiyas tamtzili banyak melihat kepada alam fisik. Kebenaran alam fisik tadi kemudian ditarik untuk justifikasi kebenaran alam metafisik. Model seperti ini banyak dianut oleh para mutakallimun generasi awal. Hanya saja, kiyas ini banyak mendapatkan kritikan tajam oleh para filsuf dan mutakalimun mutaakhirun. Di antara ulama kalam yang banyak membongkar kelemahan logika ini adalah Imam Amidi seperti yang beliau tulis dalam kitabnya Ibkarul Afkar fi Ushuluddin dan ibnu Taimiyah dalam kitabnya Dar’u Ta’arrudi al-Aqli wa Annaqli.

 

Kedua, logika Aristoteles. Logika Aresto sebelumnya sering digunakan oleh para filsuf muslim, seperti al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusy dan lain sebagainya. Pelan-pelan logika ini masuk ke dalam ranah ilmu kalam. Pada akhirnya, logika Aresto sering dijadikan sebagai mukadimah untuk mempelajari ilmu kalam. Imam Amidi sendiri, dalam kitabnya al-Ibkar fi Ushuluddin sebelum masuk dalam pembahasan kalam secara lebih terperinci, terlebih dahulu berbicara panjang lebar terkait dengan ilmu logika Aristoteles. Karena logika Aresto inilah yang kemudian sering dipakai untuk membuktikan kebenaran teks al-Quran.

 

Inilah barangkali dua piranti penting yang biasa digunakan oleh para mutakallimun dalam menuliskan buku-buku kalamnya. Singkatnya, jika kita ingin memperdalam ilmu kalam, maka kiyas tamtsili dan logika Aristoteles harus kita kuasai dengan baik. Tanpa pengetahuan terhadap dua macam logika itu, kita akan terseok-seok dalam memahami berbagai kata kunci dalam buku-buku kalam. Wallahu a’lam

BAGIKAN
Berita sebelumyaBaru 17 Tahun, Alumni SD Muh 10 Banjarmasin Lulus di FK UMM
Berita berikutnyaSang Surya Telah Bersinar di Teluk Cenderawasih