Ilmu Kalam Itu “Pandangan Hidup” Kelompok Islam

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M:

 Ketika kita bicara ilmu kalam, banyak dari kita yang memahami bahwa ilmu kalam sekadar ilmu yang membahas mengenai Tuhan dan sifat-sifat Tuhan. Memang benar bahwa ilmu kalam membahas tenang seluk beluk ke-Tuhan-an, hanya saja membatasi ilmu kalam hanya sebatas pada kajian ketuhanan serasa urang tepat. Bahasan ketuhanan dalam ilmu kalam merupakan bagian dari bahasa kalam secara keseluruhan.

 

Jika kita buka kitab al-Ibkar fi Ushuluddin karya imam Amidi, atau kitab Arbaia fi Ilmi al-Kalam karya imam Arrazi, bahasan pertama yang dikaji oleh ilmu kalam adalah masalah wujud (ontology). Ia menjadi tangga pertama dalam ilmu kalam, karena wujud akan berimplikasi kepada bahasan kalam selanjutnya.

 

Dalam bab wujud ini, kita akan disuguhi berbagai terma terkait wujud (ada) dengan adam (tiada), perbedaan antara keduanya, adakah wujud azal, lalu terkait dengan wajibul wujud dan mumkinul wujud, jauhar (atom), a’radh (sifat benda), zaman (ruang), makan (waktu) dan lain sebagainya. Dari bahasa wujud tadi, nantinya akan mengarah kepada manusia yang mumkinul wujud dan apa yang harus dilakukan manusia, terutama terkait hak dan kewajibannya dengan wajibul wujud.  Di sini nantinya akan bersinggungan dengan kajian ushul fikih kalam.

 

Manusia sebagai mumkinul wujud, ketika hidup di dunia mempunyai sifat ikhtiyariyah (pilihan) dan iradah (keinginan). Bagaimana nantinya manusia akan memilih mengenai kebenaran dan kebatilan? Apakah posisi manusia di dunia sekadar menjalani ketentuan Tuhan, atau mempunyai pilihan yang independen? Bagaimana posisi manusia di hadapan Tuhan? Apa tugas manusia di dunia ini? Bagaimana dengan amanah Tuhan untuk membangun peradaban di dunia? Bagaimana juga cara interaksi dengan sesama manusia? Semua pertanyaan tadi, menjadi bahasan penting dalam ilmu kalam. Banyak silang pendapat mengenai posisi manusia ini. Semua akan berpendapat dengan berargumennya masing-masing.

 

Kesadaran tentang manusia sebagai mumkinul wujud, akan berimplikasi kepada kesadaran mengenai tugas manusia di muka bumi. Wajibul wujud, tatkala menciptakan manusia, tidak kemudian membiarkan manusia hidup secara bebas tanpa ada tuntunan dan aturan. Manusia membutuhkan bimbingan sehingga dapat membedakan antara yang hak dan batil. Manusia membuhuhkan Di sini ilmu kalam lantas membahas mengenai kenabian.

 

Nabi berfungsi sebagai utusan Tuhan yang akan memberikan bimbingan kepada umat manusia mengenai jalan dan sesuai dengan syariat. Nabi akan menunjukkan perbedaan antara yang hak dan  yang batil. Sebagian nabi juga dibekali dengan kitab suci sehigga tatkala nabi meninggal dunia, masih ada tuntunan tertulis yang bisa dijadikan pedoman bagi mereka.

 

Manusia sebelumnya tidak ada, lalu ada dan akan berakhir kepada ketiadaan.Hanya saja, manusia tidak tau, apakah ketiadaan itu benar-benar tiada dalam arti musnah, ataukah sekadar perpindahan dari satu alam ke alam lain? Di sini ilmu kalam akan mengkaji mengenai jasad dan ruh. Akan ada bahasan, mana yang sifatnya “kekal”, dan mana  yang tidak.

 

Lantas, apa itu alam ghaib? Apa yang akan terjadi ketika manusia berpindah alam lain? Di sini ilmu kalam mengkaji alam kubur, hari kebangkitan, hisab, shirath surag dan neraka. Bahasan sangat detail disertai dengan argumentasi yang sangat logis.

 

Jadi, ilmu kalam itu sesungguhnya adalah “Pandangan Hidup (Worldview)” bagi kelompok Islam. Ilmu kalam itu “filsafat Islam”. Ia membahas tentang Tuhan, manusia, sikap manusia di hadapan Tuhan, perjalanan manusia ke akhirat dan lain sebagainya.

Dalam sejarahnya, terdapat banyak kelompok kalam. Setiap kelompok mempunyai pandangan hidup masing-masing. Pandangan hidup ini akan berimplikasi kepada sikap dia dalam kehidupan di dunia. Pandangan kalam yang “ekstrim”, akan melahirkan manusia ekstrim juga, seperti kelompok khawarij dan ISIS (neo khwarij). Pandangan moderat, juga akan melahirkan kelompok muslim yang moderat, seperti maturidiyah dan asyariyah. Wallahu alam.