Apakah Nabi Bisa Salah?

82

Ust. Wahyudi Abdurrahim. Lc. M.M:

Tadz, apakah nabi bias salah?

 

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc:

 

Maksum maknanya adalah terjaga dari kesalahan, lupa dan kelalaian. Semua ulama sepakat bahwa para rasul maksum dalam menyampaikan risalah nabi. Rasul tidak akan pernah salah dan selalu amanat dalam menyampaikan apa yang diwahyukan Allah kepadanya. Para rasul juga terjaga dan tidak akan pernah melakukan dosa besar. Dalil bahwa para nabi maksum adalah firman Allah berikut ini:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى * مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى * وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى * عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى

 

Demi bintang ketika terbenam, ( )  kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, ( ) dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. ( )  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), ( ) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, (QS. An-Najm: 1-5)

 

 

Bagaimana dengan dosa kecil? Sebagian besar ulama, termasuk para ulama kalam dari kalangan Asy’ariyah berpendapat bahwa para rasul mungkin melakukan dosa kecil. Hanya saja, ketika rasul melakukan dosa kecil, maka Allah akan memberikan peringatan kepadanya dan mereka akan langsung bertaubat.

 

Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Pendapat yang menyatakan bahwa seluruh para nabi adalah maksum, merupakan pendapat semua ulama dan kelompok Islam. Ini juga pendapat umumnya para ulama kalam. Imam Al-Amidi mengatakan bahwa ini juga pendapat kalangan ulama Asyairah. Ini juga pendapat umumnya ulama tafsir, hadis dan poara fuqaha. Ia juga pendapatnya ulama salaf, para imam madzhab, sahabat, tabiin dan tabiit tabiin.

 

Ada beberapa dalil yang bisa dijadikan sebagai sandaran mengetani pendapat ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

 

Firman Allah:

 

ﻭَﻋَﺼَﻰ ﺁَﺩَﻡُ ﺭَﺑَّﻪُ ﻓَﻐَﻮَﻯ . ﺛُﻢَّ ﺍﺟْﺘَﺒَﺎﻩُ ﺭَﺑُّﻪُ ﻓَﺘَﺎﺏَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻫَﺪَﻯ

 

Artinya : Dan durhakalah Adamkepada Tuhan dan sesatlah ia.Kemudian Tuhannya memilihnyamaka Dia menerima taubatnya danmemberinya petunjuk.” QS. Thoha 121-122.

 

Secara jelas ayat di atas menggunakan kata ﻭَﻋَﺼَﻰ yang maknanya melanggar perintah Allah. Artinya bahwa nabi adam bermaksiat karena melanggar atas apa yang dilarang Allah agar tidak makan buah khuldi. Hanya saja, setelah mendapatkan teguran, nabi adam langsung bertaubar dengan menyatakan:

 

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 

Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

 

Nabi Musa juga pernah melakukan kesalahan. Namun kemudian beliau sadar dan segera bertaubat. Maka allah mengampuni atas kesalahannya.
(15). وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖفَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖقَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖإِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ (16). قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir`aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). ( ) Musa mendo`a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Qashash: 15-16)
Nabi Muhammad juga pernah ditegur Allah karena demi istri-istrinya, beliau mengharamkan bagi dirinya madu yang sesungguhnya dihalalkan oleh Allah. Namun beliau segera mengakui kesalahannya. Firman Allah:

 

: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan, apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati (pada) istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. (QS. At-Tahrim: 1).

 

Selain itu, nabi juga mungkin salah terhadap perkara-perkara yang terkait dengan urusan dunia. Perhatikan penggalan cerita berikut:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

Dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik”.  Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ‘Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?  Beliau lalu bersabda: ‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian’ (HR Muslim). Wallahu a’lam

================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com