Tips Agar Website Pesanten Muhammadiyah Bermutu Dakwah

DCIM101MEDIA
Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc:

 

Jika kita buka-buka di google untuk mencari informasi seputar pesantren Muhammadiyah, kita akan menemukan website pesantren atau sekolah yang kita inginkan. Kita akan mendapatkan berbagai informasi pesantren yang kita inginkan, lengkap dari profil hinga foto-foto kegiatan. Umumnya web tersebut dibuat dengan tujuan utuk memperkenalkan instansi pesantren kepada masyarakat. Web juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk pendaftaran elektronik sehingga santri yang ingin mendaftar tidak harus datang ke pesantren. Ia cukup buka web dari rumah dan mengisi formulir yang disediakan di website.

 

 

Sesungguhnya, website pesantren Muhammadiyah bisa dimaksimalkan lebih jauh. Web tidak hanya dijadikan sebagai sarana untuk memperkenalkan pesantren dan tempat regestrasi, namun juga menjadi sarana dakwah amar makruf dan nahi munkar. Web menjadi sarana efektif seseorang mencari berbagai informasi keagamaan.

 

Orang sekarang senang dengan yang sifatnya praktis. Bahkan dalam mencari informasi keagamaan pun, mereka juga suka yang praktis-praktis. Apa yang mereka butuhkan dari hukum agama, cukup buka google dan tulis pertanyaan. Maka google akan segera memberikan jawaban. Atau jika ia sudah punya kepercayaan terhadap web tertentu, maka ia akan membuka web yang sering ia buka. Ia akan mencari berbagai informasi keagamaan disana.

 

Di sini pesantren Muhamadiyah bisa mengambil peran. Web tidak sekadar dijadikan sebagai tempat foto-foto atau berita kegiatan pondok, tapi juga informasi keislaman. Jika sekadar berita pondok, maka yang akan membuka web hanya mereka yang berkepentingan seperti santri atau wali murid.

 

Di sini yang dibutuhkan adalah perubahan konsep web pesantren. Kita rubah bentuknya menjadi web umat Islam. Kontennya banyak bersinggungan dengan kebutuhan umat atau bisa juga dengan menambahkan spesialisasi ilmu pengetahuan keislaman. Bisa saja di web ada menu fikih, ushul fikih, tafsir, ulumul quran, ulumul hadis dan lain sebagainya. Para ustadz dan santri wajib menyumbangkan tulisan, minimal satu mingu sekali saja.

 

Satu menu menjadi tanggungjawab satu ustadz atau beberapa santri. Buat potongan tema-tema secara beruturan dan bersambung hingga selesai satu bahasan secara lengkap. Jika santri kesulitan, berikan saja satu buku dari kitab kuning untuk diterjemahkan secara berkala. terjemahan dibagikan kepada santri secara periodik dan tersetruktur. Kelak ia akan menjadi sebuah buku yang utuh dan komperhensif. Setiap satu santri atau ustadz dalam satu minggu kebagian untuk menulis satu tema. Karena jumlah santri banyak secara otomatis setiap hari akan ada tema yang masuk. Bisa jadi lebih dari 7 atau 10 tema masuk. Makin banyak jumlah santri maka makin banyak pula tulisan yang akan masuk ke meja redaksi. Selanjutnya di tim redaksi ada beberapa orang yang bertugas untuk proses editing dan menaikkan ke website.

 

 

Jika bisa demikian, umat Islam akan mendapatkan informasi yang luar biasa. Jika Muhammadiyah ada 100-an pesantren saja, maka akan ada web Muhammadiyah berkualitas dan konsen di bidang keilmuan sebanyak 100 website. Tentu ini sumbangan yang luar biasa bagi umat Islam.

 

Banyak keuntungan dengan memaksimalkan web pesantren Muhamamdiyah menjadi web Islam. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Menjadi sarana bagi santri dan para asatidz untuk menuangkan ilmu pengetahuan yang telah ia dapatkan ke dalam bentuk tulisan. Tidak semua orang pinter bisa menulis, karena menulis butuh ketrampilan. Dengan sarana seperti ini dapat menjembatani bagi mereka untuk belajar mengekspresikan pengetahuan yang telah mereka raih ke dalam bentuk tulisan.
  2. Menyebarkan ilmu. Jadi ilmu yang mereka dapatkan di pesantren tidak mengendap di pesantren saja. Orang lain yang berada di luar pesantren juga bisa mendapatkan ilmu tersebut dengan membaca berbagai informasi yang tertulis di web. ilmu yang tersebar tersebut insyaallah akan menajadi ilmu yang bermanfaat yang pahalanya kelak akan terus mengalir meski penulisnya telah tiada.
  3. Bukti bahwa pesantren tersebut sebagai pesanren kader ulama. Tulisan-tulisan yang ada menjadi wujud real mengenai tanggungjawab moral atas ilmu yang mereka dapatkan di pesantren.
  4. Di website juga bisa dibuka forum tanya jawab. tugas para asatidz untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang muncul dari masyarakat.
  5. Setelah website, bisa juga membuka forum keilmuan melalui WA, Telegram, Chabel youtube dan sejenisnya. Media sosial yang ada bisa direbut dan dikuasai untuk dijadikan sebagai sarana dakwah amar makruf nahi munkar.
  6. Promosi pesantren. Dengan merubah web pesantren menjadi web Islam, maka secara otomatis nama pesantren juga akan terdograk. Banyak orang yang akan membuka web tersebut, dan lambat laun akan tertarik kepada pesantren. Jika masyarakat sudah percaya dengan pesantren, maka masyarakat tidak akan segan untuk menitipkan putra-putrinya ke pesantren. Bahkan jika pesantren butuh dana untuk perlengkapan infrastruktur, masyarakat dengan sendirinya akan tergerak hatinya untuk membatu pesantren. Hal ini karena masyarakat telah merasakan memiliki dan berkepentingan.
  7. Apakah dengan ini informasi kepesantrenan ditiadakan? Tentu saja tidak. Berbagai informasi dan perkembangan pesantren tetap ada. Namun ia tidak dominan. Hanya yang menjadi unggulan dari web tersebut adalah informasi keislaman. Wallahu a’lam
BAGIKAN
Berita sebelumyaPemuda Muhammadiyah Kritik PP 72 Tahun 2016 Kejar Ambisi Tabrak Konstitusi
Berita berikutnyaKetua PSI ini Mundur Demi Bela Fatwa MUI