Pihak Ahok Tak Berdaya di Pokok Perkara, Mereka Selalu Cari Celah untuk Beropini

Pedri Kasman, Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah

Sidang kasus pidana Ahok Selasa besok kemungkinan agendanya masih pemeriksaan saksi saksi. Masih ada beberapa saksi pelapor yang belum diperiksa di persidangan. Setelah itu kemungkinan dilanjutkan ke saksi fakta atau saksi yang ada di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Dari pengalaman sidang sidang sebelumnya, kemungkinan Ahok dan pengacaranya tidak akan banyak membahas masalah yang jadi pokok pada kasusnya itu. Yaitu dugaan pidana penodaan agama pada pidatonya di menit 24.20-24.33. Yakni pada kalimat “….. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macam macam itu. …………….dibodohin gitu ya …..” Kalimat ini ada dalam video 1 jam 48 menit 33 detik yang sudah jadi barang bukti di tangan majelis hakim.

Kalimat ini jelas sudah diakui Ahok. Itu ucapan dia langsung. Yang ada di video itu benar adalah dia. Jadi dia nggak mungkin lagi berkelit dari fakta itu. Fakta itu jelas dan terang sekali. Saksi saksi pun sudah tentu akan bersaksi seputar itu.

Karena sudah tidak bisa mengelak maka mereka akan mencari cari cara untuk membangun opini di luar pokok perkara. Cara yang biasa dipakai adalah dengan mempreteli pribadi saksi, lalu diumbar ke publik. Seolah saksi itu harus bersih seperti malaikat. Padahal yang TERDAKWA adalah Ahok, kenapa saksi yang dipreteli?

Mereka juga akan berputar putar di masalah yang tidak terkait perkara seperti soal kepemimpinan, pilkada, program program gubernur, tafsir kata auliya dan lain lain. Bahkan bisa saja pertanyaan mereka menjerat saksi karena salah jawab. Lalu mereka jadikan itu opini politik di luar sidang.

Jaksa penuntut umum harus banyak berperan sebagai pengacara negara yang harus membuktikan dakwaannya, supaya persidangan jadi fokus dan tidak bertele tele. Majelis hakim juga mesti menghentikan pertanyaan yang tidak penting. Karena sebenarnya Jaksa dan hakimlah yang berkepentingan membuktikan perkara ini. Saksi hanya orang yang dimintai keterangan.
Jaksa dan hakim harus berupaya keras menjaga kualitas persidangan ini dan menjauhkannya dari tendensi politik.

Jakarta, 16 Januari 2017

Pedri Kasman
Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah
(Pelapor)