Memiliki TK di Mesir, Muhammadiyah Dirikan Universitas di Malaysia dan Thailand

Unismuh Makassar (ilustrasi)

SangPencerah.id– Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah bakal membuka kampus di luar negeri. Utamanya wilayah Asia Tenggara yakni di Malaysia serta Thailand yang menjadi target awal keberadaan kampus tersebut. Sebelum mendirikan Universitas di Malaysia dan Thailand,Muhammadiyahtelah memiliki TK ABA di Kairo, Mesir.

Rencana ini disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir usai pelantikan Sukadiono sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya untuk periode kedua 2016-2020, di Surabaya, Jawa Timur, pertengahan Desember 2016.

“Ini era MEA, era perdagangan bebas. Kalau kita (Indonesia) defensif akan menjadi serbuan pihak asing, sebagai pasar untuk bidang ekonomi maupun pendidikan. Karena itu, paradigma harus diubah ke ofensif,” kata Haedar seperti dikutip dari Antara.

Menurut Haedar, pengalaman dan kemampuan Muhammadiyah selama ini dalam mengelola perguruan tinggi menjadi salah satu latar belakang.

“Muhammadiyah sudah menjajaki peluang untuk memanfaatkan kesempatan di sana (Asia Tenggara). Dan akan menempatkan kampus di sana. Malaysia dan Thailand menjadi awal keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah di manca negara,” ujar dia.

Soal anggaran pembelian lahan dan pembangunan kampus di negara orang, Haedar memastikan keuangan organisasi yang dipimpinnya mampu membangun kampus tersebut. Terlebih Muhammadiyah juga berpengalaman membangun perguruan tinggi yang besar.

Haedar menjelaskan, ada dukungan anggaran PP Muhammadiyah. Selain itu, juga dukungan dari konsorsium antar-Universitas Muhammadiyah di Indonesia. Pola konsorsium untuk menentukan persentase penyertaan investasi sudah ada dan biasa diterapkan.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang mempunyai sejarah dan kerajaan-kerajaan yang besar. Salah satu contohnya Kerajaan Sriwijaya. Indonesia jangan hanya menjadi negara konsumen, namun harus menjadi produsen,” ujar Haedar.

Selain berencana membangun kampus di luar negeri, pembangunan kampus serta sekolah juga dilaksanakan Muhammadiyah di Indonesia Timur atau wilayah pelosok lainnya.

Rektor UM Surabaya Sukadiono menyatakan, kampus-kampus Muhammadiyah selama ini biasa membentuk konsorsium. Terutama dalam membuka unit usaha baru.

“Sharing bukan cuma menyangkut anggaran pembukaan kampus di luar negeri saja. Sharing program pendidikan yang menjadi unggulan masing-masing kampus Universitas Muhammadiyah juga dilakukan,” papar mantan Dirut Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah Surabaya ini.

Sukadiono menjelaskan, UM Surabaya punya kelebihan pada prodi ilmu kesehatan, terutama kebidanan dan keperawatan. Oleh sebab itu, pihaknya juga akan akan mengirimkan dosen ke luar negeri yang akan mengajar di lokasi kampus baru tersebut.

Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Edy Suandi Hamid menambahkan, PP Muhammadiyah banyak membantu untuk terwujudnya kampus Muhammadiyah di luar negeri.

“Karena ini memang program PP Muhammadiyah. Yang masih dalam tahap persiapan sekarang adalah menyiapkan regulasinya,” ujar Edy.

Dia menjabarkan selama ini antara PP Muhammadiyah dengan Malaysia serta Thailand sudah bekerja sama dalam hal pengiriman mahasiswa untuk program Praktik Kerja Lapangan (PKL). Hal itu disebabkan adanya persamaan bahasa antara ketiga negara itu. (sp/l6)