Tak Berganti Atribut, Biarawati Katolik Ini Bahagia Menjadi Mahasiswa Muhammadiyah

Suster Yemi bersama Teman-teman Mahasiswa S2 (foto: surya tribun)

SangPencerah.id- Sebuah kelas yang menjadi ruang menimba ilmu bisa berfungsi juga menjadi ruang saling toleransi. Interaksi yang terjadi di dalam kelas menggambarkan tidak ada sekat apapun bagi mereka yang ingin menimba ilmu.

Meskipun dengan latar yang beragam baik suku, ras dan agama. Canda tawa justru hadir sebagai simbol kasih sayang dan saling mengenal.

Hal itu tergambar di ruang kelas Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Satu di antaranya ialah kehadiran suster Yemi Maribouk (46) yang memang menjadi pembeda. Ia adalah seorang biarawati.

Setiap pergi ke kampus, ia selalu mengenakan busana biarawati berwarna putih yang khas dengan simbol kalung sali menggantung di dadanya. Dari 25 mahasiswa di dalam kelas, memang hanya dia sendiri yang non muslim.

“Saya merasa senang dan aman. Teman-teman sangat baik,” kesan suster Yemi kepada suryamalang.com, Rabu (14/12/2016).

Suster Yemi menceritakan, awalnya ia memang bertanya-tanya, apakah ia akan diterima atau tidak di UMM.

Pasalnya, ia tahu kalau UMM adalah kampus yang berbasis Islam. Namun suster Yemi menjawab sendiri keraguannya itu dengan menjatuhkan pilihah kuliah di UMM.

“Soalnya, di kampus lain belum ada kelas akhir pekan. Hanya di UMM,” tambahnya.

Awal-awal kuliah, suster Yemi masih terkesan canggung. Namun seiring berjalannya waktu, kini ia bisa berbaur dengan teman-teman yang lain. Bagi suster Yemi, keakraban itu adalah simbol bahwa ia diterima.

Busana suster Yemi yang tidak berubah warna dan bentuk kerap menjadi pertanyaan teman sekelas. Bahkan ada yang ingin membantu memberi kerudung warna baru agar suster Yemi tidak memakai kerudung yang itu-itu saja.

Tapi dengan interaksi itu, saling mengenal justru terbangun. Itu sekaligus menjadi kesempatan suster Yemi memperkenalkan apa yang ia yakini. Bagi suster Yemi, busana seperti itu adalah identitas bahwa dirinya seorang pemuka agama.

“Inilah identitas kami. Mereka menjaga saya. Kita saling mengerti. Mungkin kalau orang tidak mengerti, akan melihat sesama sebagai musuh,” ujarnya.

Suster Yemi tidak berbeda dengan mahasiswa lainnya. Di UMM, ada namanya mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Setiap mahasiswa menerima mata kuliah ini. Tak terkecuali suster Yemi.

Justru dengan mengikuti AIK, suster Yemi bisa mengetahui Islam seperti apa.

“Muhammadiyah adalah Islam yang nasionalis,” tegasnya.

Mochamad Rofik (24) teman sekelas suster Yemi mengungkapkan kehadiran suster Yemi membuat suasana di dalam kelas semakin hidup. Bahkan Rofik menganggap suster Yemi bukan sekadar pemuka agama, melainkan teman sebaya.

“Secara akademik seperti biasa. Kayak teman-teman yang lain. Bahkan menganggap dia bukan pemuka agama,” kata lelaki asli Malang itu.

Kehadiran suster Yemi menjadi teman dialog tentang keberagaman dan pembangunan Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) karena suster Yemi memang berasal dari NTT.

“Ia menjadi teman bercanda dan tertawa juga,” ujar mantan aktivis IMM itu.

Kepala Humas dan Protokoler UMM Rina Wahyu Setyaningrum mengatakan, UMM memang terbuka kepada siapapun yang ingin belajar.

Meskipun lembaga pendidikan milik Muhammadiyah, saat ini ada ratusan mahasiswa non muslim yang menempuh studi di UMM.

Ada 56 program studi (prodi) di UMM. Setiap prodi ada mahasiswa non muslim. Ada dari Hindu, Budha, Konghucu pun nasrani.

“Ini adalah pengenjewantahan dari Muhammadiyah untuk bangsa. Kampus Islam yang kebangsaan. Kami akan memperlakukan mereka sama saja seperti mahasiswa yang lain,” paparnya

Terkait mata kuliah AIK, Rina menegaskan mata kuliah itu bertujuan untuk mengenalkan Muhammadiyah dan sejarahnya. Sebagai mata kuliah, tentu saja AIK dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan.

Menurut Rina, hal itu yang menjadi alasan suster Yemi merasa aman dan nyaman belajar di Kampus Putih. (sp/suryatribun)