Tunanetra Sejak Lahir, Siswa SD Muhammadiyah 4 Batu Giat Menghafal Al Qur’an

Ahmad bersama kedua orang tua yang selalu mendukung dan mencintainya
SangPencerah.id- Suara Ahmad Syihab Athaillah yang merdu saat melantunkan ayat suci Alquran mengantarkan dia tampil di berbagai daerah hingga tingkat nasional. Warga Kampung Hendrik, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur, yang tidak bisa melihat ini rupanya juga hafiz atau penghafal Al quran.

Lantunan ayat suci Alquran samar-samar terdengar dari balik rumah di Jalan Darsono Barat 25, Kampung Hendrik, Ngaglik, Batu, Kota Batu. Meski terdengar lirih, suaranya enak didengar. Suaranya merdu dan bacaan tajwidnya juga bagus. Ya, itulah suara Ahmad Syihab Athaillah. Sore itu, Selasa sore itu, Ahmad sedang melantunkan surat Al Jumu’ah.

Saat membaca surat Al Jumu’ah, Ahmad yang memakai baju koko itu sedang duduk santai di ruang tamu rumahnya. Di tangan kanannya, dia tampak menggenggam perangkat elektronik MP4 berwarna biru. Perangkat itu beberapa kali didekatkan di telinga kanannya. Tidak lama kemudian, anak berkebutuhan khusus (ABK) yang berusia 9 tahun ini menirukan suara yang terdengar dari perangkat tersebut.

1446510178-ahmad-syihabbocah-cilik-tunanetra-penghafal-quran

Kegiatan itulah yang sehari-hari dilakukan Ahmad. Sepulang sekolah, dia selalu mendengarkan lantunan ayat suci Alquran sembari mengikutinya. Kegiatan itu dilakoninya sejak masih kecil, tepatnya ketika berusia dua tahun. ”Isinya tidak hanya bacaan Alquran, tapi juga lagunya Opick. Saya juga suka lagunya, bagus-bagus,” kata Ahmad. Anak pasangan Kasiono-Sifaul Qulubiyah ini sudah menghafalkan dua juz yakni 30 dan 29.

Saat ini, Ahmad sedang menghafal juz ke-28. Selain itu, Ahmad juga sudah hafal banyak surat-surat lainnya. Seperti surat Al Kahfi, Al Mulk, dan Al Baqarah. Siswa kelas III SD Muhammadiyah 04 Kota Batu ini sudah banyak menghafal surat karena sejak usia 1,5 tahun sudah dibiasakan orang tuanya mendengarkan alunan ayat Alquran lewat MP4 player.

Kegiatan itu dilakukannya setiap hari. Sehingga saat berusia dua tahun, Ahmad sudah mulai bisa menghafalkan ayat-ayat Alquran. Saat masuk sekolah taman kanakkanak (TK), Ahmad sudah menghafalkan surat-surat pendek dan ayat kursi. Selama dua tahun, Ahmad sudah bisa menguasai tajwid. Hal itu berkat bimbingan kedua orang tuanya. Kegiatan tersebut berlanjut hingga memasuki SD. Dia semakin banyak menghafal surat.

Hafalan Alquran yang dilakukannya juga terus diulang-ulang. Terkadang, dia juga menghafalnya secara acak. Setiap pukul 06.30 hingga pukul 08.00, sebelum pelajaran dimulai, Ahmad menghafalkan surat di juz 28. Kemudian pada sore hari setelah salat Magrib, dia bersama orang tuanya mengaji bersama sekaligus menghafalkan surat yang dihafal pada pagi harinya.

Biasanya Ahmad melanjutkan bacaan yang dibacakan oleh orang tuanya. ”Saya suka ketika meneruskan bacaan atau sambung ayat, karena lebih mudah. Selain itu, juga senang karena dilakukan bersama-sama,” kata Ahmad yang punya cita-cita menjadi dubber atau pengisi suara ini. Latihan membaca dan menghafal itu mudah dilakukan karena ayahnya, Kasiono, seorang ustad di Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Baiturrahman.

Tak hanya penghafal dan piawai melantunkan ayat suci Alquran dengan merdu, Ahmad juga pintar mengumandangkan azan atau panggilan untuk melaksanakan salat. Ahmad juga gemar menyalakan televisi. Meski tidak bisa melihat tayangan televisi, dia tetap senang. Dia menjadikannya TV sebagai hiburan dengan hanya mendengarkan suaranya saja.

Karena itu, dia banyak hafal suara- suara iklan di televisi. ”Suaranya bagus-bagus, senang bisa menghafalkan suara iklan,” imbuhnya. Berkat kepiawaiannya menjadi hafiz, Ahmad yang memiliki keterbatasan fisik itu sering tampil di depan masyarakat. Tidak hanya di Kota Batu dan beberapa daerah di Malang Raya serta sekitarnya, tapi juga di ajang tingkat nasional.

(baca : Novel Karya Pelajar Muhammadiyah Tunanetra Ini Meledak di Pasaran ) baca juga (Di SLB Muhammadiyah, Dalam Gelap Lilik  Antar Siswanya Ke Gerbang Kesuksesan )

Pada Mei 2016 lalu, untuk kali pertama Ahmad muncul di stasiun televisi nasional dalam program Ummat. Dia tampil dalam program yang menyajikan informasi seputar perkembangan dunia Islam di seluruh dunia. Dalam sajian itu, keseharian Ahmad dipotret. ”Senang rasanya bisa berbagi cerita di televisi,” ungkap anak tunggal ini. Ahmad yang lahir dengan gangguan penglihatan ini punya citacita mulia. Dia ingin segera menunaikan rukun Islam kelima, yakni ibadah haji.

(baca : Hafal 30 Juz Al Qur’an, Santri Panti Aisyiyah Ini Lanjut Menghafal Hadist ) baca juga ( Terlahir Tanpa Tangan dan Kaki, Siswa SMP Muhammadiyah Ini Ingin Belajar Hingga Perguruan Tinggi )

Tidak sendirian, tapi bersama dengan kedua orangtuanya. Saat haji nanti, Ahmad bakal banyak mengaji di Masjidilharam. Selain cita-cita mulia itu, Ahmad juga punya keinginan besar lainnya. Untuk mewujudkannya, Ahmad senang sekali mendengar dan membacakan surat Al Fajr (fajar). ”Saya sudah menghafalnya, saya suka. Saya ingin melihat fajar. Kalau Allah meridai, pasti Ahmad bisa melihat seperti anak-anak lainnya,” kata Ahmad dengan terbata-bata. (sp/in)