Tentang Kasus Munir : Inilah Surat Terbuka Untuk Hendropriyono

SangPencerah.id– Mencuatnya kembali kasus Munir, aktivis HAM yang juga lulusan SD Muhammadiyah Batu, akhir-akhir ini mengundang reaksi dari berbagai pihak. Salah satu respon atas memanasnya kembali kasus Munir, datang dari Haris El Mahdi. Aktivis yang menjadi Pegiat Omah Munir. Di akun media sosialnya, ia menuliskan surat terbuka kepada Hendropriyono, yang berisi sebagai berikut:

SURAT TERBUKA UNTUK HENDROPRIYONO

Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh,

Saya, Haris el Mahdi, pegiat Omah Munir, menulis surat terbuka ini atas dasar cinta, bukan atas dasar kebencian. Agama saya mengajarkan untuk mencintai setiap makhluk, untuk mencintai setiap manusia, betapapun ia nyata-nyata menjadi musuh.

Bapak Haji Abdullah Mahmud Hendropriyono yang mulia, 12 tahun yang lalu, mas kami, mas Munir Said Thalieb meregang nyawa karena diracun. Ia dibunuh dengan melibatkan banyak tangan manusia, dengan skenario yang rumit dan rapi. Seorang Munir yang kurus dibunuh dengan operasi yang menghabiskan begitu banyak biaya dan melibatkan begitu banyak manusia.

Bapak Haji Abdullah Mahmud Hendropriyono yang mulia, dari hasil temuan tim pencari fakta (TPF) kasus Munir terungkap bahwa ada indikasi kuat Badan Intelijen Negara (BIN) , yang saat itu Bapak pimpin, terlibat di dalamnya. Ada indikasi kuat BIN menjadi tangki pemikir pembunuhan mas Munir. Ada indikasi kuat Intelijen negara beroperasi membunuh seorang laki-laki yang mencintai Indonesia lahir-bathin, luar-dalam.

Bapak Haji Abdullah Mahmud Hendropriyono yang mulia, dalam sidang-sidang kasus mas Munir membuktikan bahwa indikasi kuat TPF Munir menemui pembenarannya. BIN diduga menfasilitasi pembunuhan itu. Dan, nama Bapak muncul, diduga sebagai salah satu aktor kuncinya.

Dengan penuh kerendahan hati, saya memohon penuh harap Bapak bersedia melakukan klarifikasi dengan jujur atas temuan TPF Munir dan fakta-fakta pengadilan itu, yang mengindikasikan Bapak terlibat pembunuhan mas Munir.

Sebagai sesama muslim, saya mempunyai tanggung jawab untuk mengetuk hati Bapak, untuk bersama-sama belajar memperbaiki kesalahan. Kesalahan masa lalu tidak bisa ditutupi dengan kelit dan tipu, tapi bisa dihapus dengan kejujuran dan pertanggung-jawaban.

Saya percaya, sebagai seorang Jenderal, sebagai seorang Haji, Bapak cukup mempunyai nyali untuk berkata jujur, untuk mengatakan yang benar adalah benar dan salah adalah salah. Saya percaya dalam diri Bapak ada “suara kebenaran” yang terus bersuara agar Bapak bicara jujur.

Bapak Hendropriyono yang mulia, apalah artinya hidup bergelimang kemewahan jika bathin Bapak selalu gelisah akibat dosa di masa lalu? Adalah lebih mulia seorang pendosa yang mengakui kesalahan dan bertobat daripada pendosa yang selalu dikejar-kejar mimpi buruk akibat dosanya. Sorga menunggu pertobatan Bapak.

Akhir kalam, surat terbuka ini bukan penghakiman tetapi ikhtiar seorang muslim untuk mengajak sesama muslim mengakhiri episode hidup dengan baik, dengan khusnul khatimah.

Wa alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

(baca juga : Mengenang Aktivis HAM: Di SD Muhammadiyah Kota Batu, Munir Giat Menuntut Ilmu)

Haris el Mahdi
Pegiat Omah Munir
FB @ Haris el Mahdi