Dua Anggota BPH Universitas Muhammadiyah Menjadi Calon Pemimpin di DKI Jakarta (1)

SangPencerah.id– Hingar bingar Pilkada di DKI Jakarta menyedot perhatian hampir seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali warga Muhammadiyah. Tapi tidak banyak warga Muhammadiyah yang tahu, bila diantara kandidat-kandidat yang berkompetisi merupakan bagian dari Badan Pengurus Harian atau BPH di dua Universitas Muhammadiyah yang ada di Jakarta. Yang pasti, dua kandidat ini menjadi BPH, jauh-jauh hari sebelum ia menjadi calon pemimpin di Ibukota. Kedua kandidat tersebut adalah Sylviana Murni yang kini menjadi anggota BPH Uhamka dan Sandiaga Uno yang menjadi bendahara BPH Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Calon yang pertama yang kami turunkan dalam tulisan ini  adalah Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, SH., M.Si.  Sosok perempuan tangguh yang kini berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono dalam perebutan kursi pemimpin DKI Jakarta. Sylviana Murni merupakan pengurus BPH  UHAMKA dan cukup dekat  dekat dengan Universitas Muhammadiyah Prof.Dr. Hamka (UHAMKA). Dikampus ini dia mengajar, dikampus ini pula meraih gelar guru besar.

Perempuan Betawi kelahiran Jakarta, 11-10-1958 ketika di angkat menjadi Walikota Administrasi Jakarta Pusat, tidak ada hubungannya dengan masalah politik atau etnis. Misalnya karena dia anak Betawi atau karena dia cantik dan pernah terpilih sebagai None Jakarta. Tapi semata-mata karena kinerjanya memang bagus, baik ketika dipercaya menjabat sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil maupun sebagai Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta. Ibu dari dua orang anak dan nenek dari dua orang cucu ini, Juga pernah duduk sebagai Anggota DPRD DKI Jakarta. Begitu pula Jangan latar belakang pendidikannya, tak ada yang perlu diragukan. Sylvi mengawali karirnya sebagai pegawai negeri pada tahun 1985.

Meski tak terdengar  suara-suara yang meragukan kemampuan Sylvi, Gubernur Fauzi Bowo tetap merasa perlu menegaskan sikap hati·hati Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelum mengambil keputusan mengangkat Sylvi sebagai Walikota, pengangkatannya dilakukan melalui proses uji kelayakan oleh DPRD setelah melalui proses internal yang dilakukan oleh BAPERJAKAT atau Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkalan. Hal ini tercermin dengan jelas melalui kata sambutan yang disampaikan Fauzi Bowo sesaat setelah melantik Sylvi pada 1 April 2008. “Pengangkatan dan pelantikan Saudari Sylviala Murni, dilakukan dengan hati-hati, setelah melalui observasi mendalam terhadap rekam jejak disertai pertimbangan-pertimbangan objeklif. Proses tersebut meyakinkan saya jika Saudari Sylvi memiliki kapasitas untuk mengemban amanah kepercayaan sebagai Walikota Jakarta Pusat,” kata Gubernur” Fauzi Bowo ketika itu. Sutiyoso, Gubernur yang digantikan Fauzi, menyebut Sylvi sebagai kader terbaik diantara ratusan atau bahkan ribuan PNS yang bekaja di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Dia (Sylvi) perempuan yang cerdas sekaligus kader terbaik. Dia pantas jadi Walikota,” komentar Sutiyoso sesaat setelah menyaksikan pelantikan Sylvi.

Sylvi merupakan puteri ketiga dari sepuluh bersaudara, seratus persen Betawi. H. Dani Moerdjani, sang ayah, berasal dari Rawa Bunga, Jakarta TImur. Sedangkan Hj. Ni’mah, sang ibu, berasal dari Cikini, Jakarta Pusat. Sylvi dididik dalam disiplin militer yang cukup ketat.  karena ayahnya, seorang perwira TNI dengan pangkat (sebelum meninggal) Kolonel. Dari sang ayah inilah sebenarnya Sylvi belajar tentang disiplin dan manajemen waktu. Ketika menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat, Sylvi mengembangkan manajemen waktu itu dengan memperkenalkan konsep ” bekerja tanpa mengenal ruang dan waktu.” Konsep ini menjadi lebih efektif sering dengan perkembangan teknologi komunikasi. Sylvi tidak hanya piawai dalarn memanfaatkan berbagai perangkat teknologi komunikasi, tapi juga sangat lincah bergerak di lapangan.

Banyak Camat dan Lurah terkaget-kaget ketika rnengetahui. Sylvi sudah berada di kantor mereka tanpa pemberitahuan, tanpa protokol. Bahkan pernah di suatu subuh, selesai sholat, Sylvi berada di Galur bersama Monik (Monica Andalusia, kini dokter), puterinya, yang kemudian disusul Gde Sardjana, sang suami. Mereka bertiga naik sepeda, dari Menteng. Ternyata, tujuan utarna Sylvi ke Galur hanya ingin mernperkenalkan lingkungan pemukiman padat penduduk kepada Monik Sylvi ingin Monik rnernberi perhatian terhadap masalah-masalah kesehatan lingkungan. “Dia (Monik) kan calon (ketika itu) Dokter,” ujarnya. Meski keberadaannya di Galur merupakan ktmjungan informal, para Carnat dan belasan Lurah yang mengetahui Sylvi ada di Galur, berdatangan. Sylvi kemudian mengajak para camat dan lurah masuk gang ke luar gang di Kelurahan Galur. ‘Anggap saja olahraga pagi,’ ujarnya Sylvi ingin para lurah mencontoh Galur. ‘Anggap saja olahraga pagi,’ ujarnya. Sylvi ingin para lurah mencontoh Galur dalam masalah penghijauan lingkungan pemukiman.

Sylvi rajin berkeliling dari kelurahan ke kelurahan. Bahkan tidak jarang pula di pagi hari dia muncul bersama Hj.Tatiek Fauzi Bowo menyusuri taman. Di suatu hari, Sylvi dan Tatiek muncul di Kelurahan Cideng. ‘Bu Sylvi ngajak saya memetik sayur,’ kata Tatiek. Ternyata, disamping kantor lurah memang terdapat kebun sayur. Ada bayam, ada sawi, cabe, terong. Sylvi memang menganjurkan para Lurah untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan agar ditanami sayur.  Ada bayam, ada sawi, cabe, terong. Sylvi memang menganjurkan para Lurah untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan agar ditanami sayur. Gerakan Sylvi masuk kampung ke luar kampung itu berdampak positif pada masalah kebersihan. Syilvi bicara langsung pada warga. ‘Tolong ya jaga kebersihan. Jangan membuang sampah ke kali atau ke jalan,’ ujarnya. Sylvi tidak memerintah, tapi meminta tolong. Hasilnya, sylvi sukses menempatkan Jakarta Pusat pada peringkat pertama nasional dalam lomba adipura.

PNS Pemprov DKI Jakarta ini pernah duduk sebagai anggota DPRD DKI Jakarta dan yang pertama bergelar guru besar Manajemen Pendidikan dari UHAMKA Mengamati karir birokrasinya, sejak tanggal 15 Oktober 2010 sd sekarang menjabat sebagai Asisten Pemerintahan DKI Jakarta, sebelumnya adalah Walikota Administrasi Jakarta Pusat (01 – 04 – 2008 sd 15-10-2010), Tahun 2004 – 2008 sebagai Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKl Jakarta, Kepala Dinas Kependudukan dan Catalan Sipil Propinsi DKl Jakarta (2001 sd 2004), Kepala Biro Bina Sosial Propinsi DKl Jakarta (1999 sd 2001), Anggota DPRD DKI Jakarta Periode 19971999, Kepala Bagian Kebudayaan Biro Bintal Propinsi DKl Jakarta (1995 sd 1997), Kepala Subag Seni Budaya Biro Bintal Propinsi DKI Jakarta (1991 sd 1995), Kepala Subag Pendidikan Luar Sekolah Biro Bintal DKl Jkt (1989 sd 1991), staf BP7/Penatar P4 kemudian pidah ke Biro Bintal DKl Jakarta. Sylvi sampai dengan saat ini, sebagai Gruu Besar, masih mengajar di berbagai Universitas sebagai Dosen-Dosen Tamu antara lain Universitas As-Syafi’iyali Jakarta, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Borobudur Jakarta, Universitas Athtahiriyyah juga menjadi Dosen Tamu pada Universitas Indonesia dan IPDN.

Dari banyak prestasi yang diukirnya selama menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat, Pelayanan Terpadu Malam Hari merupakan pelayanan yang mendapat respon luar biasa dan masyarakat. Konsep ini dikembangkan Sylvi dari ide Gubemur Fauzi Bowo yang meminta para Walikota melakukan pelayanan langsung di tengah pemukiman masyarakat. “Saya banyak mengunjungi berbagai Negara. Tapi baru di Indonesia (Jakarta) ini saya melihat ada pelayanan malam hari dengan jenis layanan begitu (23 jenis) banyak,” komentar Kolonel Thay Boon Kai dan Singapura yang melihat langsung pelayanan malam di Kelurahan Kwitang pada 27 Januari 2009. -bersambung- (sp/uhk)