Mengenang Aktivis HAM : Di SD Muhammadiyah Kota Batu, Munir Giat Menuntut Ilmu

SD Muhammadiyah Kota Batu dan Alm.Munir

SangPencerah.id– Nama panjangnya adalah Munir Said Thalib. Lahir di Batu, Jawa Timur 8 Desember 1964. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara Said Thalib dan Jamilah, banyak yang mengatakan keluarga ini keturunan dari Arab. Orang tuanya memberikan nama Munir yang berarti cahaya, dengan harapan agar ia selalu Menyebarkan cahaya, bermanfaat untuk sekitarnya. Ia meninggal dalam perjalanan pesawat dari  Jakarta menuju ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 39 tahun, usia yang relatif masih sangat muda. Munir terbang ke Negeri Kincir Angin untuk suatu tujuan, melanjutkan pendidikannya di Universitas Utrecht. Kematian munir pun hingga kini masih menjadi misteri.

Nama munir melambung dan dikenal publik sebagai aktivis, pejuang dan pembela Hak Asasi Manusia. Ia berusaha menjunjung tinggi toleransi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan dan berjuang tanpa kenal lelah dalam melawan praktik-praktik otoritarian serta militeristik. Ia adalah seorang aktivis yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak orang tertindas. Selama hidupnya ia selalu berkomitmen untuk selalu membela siapa saja yang haknya terdzalimi. Tidak gila harta, pangkat, jabatan, dan juga fasilitas. Ia membuktikannya dengan perbuatan. Ketika ia mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah sebagai penerima “The Right Livelihood Award” ia tidak menikmatinya sendiri, melainkan membagi dua dengan Kontras, dan sebagian lagi diserahkan kepada ibunda tercintanya.

Pendopo SD Muhammadiyah Kota Batu (Foto: Ust.Tsalis Rifai ST)
Pendopo SD Muhammadiyah Kota Batu (Foto: Ust.Tsalis Rifai ST)

Dibalik perjalanan hidup Munir, tak banyak masyarakat-khususnya warga Persyarikatan Muhammadiyah-yang tahu,  bahwa pejuang HAM ini pernah dibesarkan dan mengenyam pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Ya, Munir saat kecil mengenyam pendidikannya di SD Muhammadiyah Kota Batu, tepatnya antara Tahun 1976 hingga 1981. Disekolah ini pendidikan formal berupa materi-materi ilmu umum dan ilmu Agama Munir dapatkan.

14265066_295509104151406_3729825218828729067_n
Suasana Belajar di SD Muhammadiyah Batu (foto : Ust.Tsalis Rifa’i ST)

Ibu Farida, Salah seorang guru Munir saat di SD Muhammadiyah Kota Batu menceritakan, “Saya mengajar Munir saat dia duduk di bangku Kelas 3 SD, lalu ketika Munir naik kelas 4, saya dipindahkan lagi mengajar di kelas 4 hingga kelas 6, disini saya mengajar Bahasa Indonesia. Praktis, selama Munir di SD Muhammadiyah ini, saya selalu bertemu dengan munir”, ujarnya.

Guru SD Munir menambahkan bahwa selama di SD Muhammadiyah Kota Batu, Munir  sosok murid yang sangat rajin. Diapun selalu duduk di deret bangku paling depan di sebelah kiri, dengan duduk di bangku paling depan disitu ia lebih cepat menyerap pelajaran. “Pernah suatu kali Munir sedang fokus mengerjakan sesuatu duduk di bangku, teman nya ada yang mengganggu dan terus mengganggu, maka ditempelenglah temannya itu”, kenang Bu Farida. “Munir itu sosok yang disiplin, dia selalu serius dalam mengerjakan sesuatu”, pungkasnya.

SD Muhammadiyah Kota Batu (Foto: Ust.Tsalis Rifai ST)
SD Muhammadiyah Kota Batu (Foto: Ust.Tsalis Rifai ST)

Kuskrido Ambardi, teman kecil Munir juga menuturkan hal serupa, “Munir itu sosok yang menyenangkan, dia temen masa kecil saya dan juga tetangga saya, kadang berteman, bermain-main bersama, kadang juga berkelahi, dia itu anak yang baik dan sangat kritis, ujar Doktor lulusan Ohio University yang kini menjadi pengajar di Fisipol UGM ini.

SD Muhammadiyah Kota Batu juga sangat bangga memiliki sosok alumni seperti Munir. Pada 7 September 2007, sekolah ini mengenang tiga tahun meninggalnya Munir dengan kegiatan-kegiatan edukatif seperti Upacara Pengibaran Bendera setengah tiang hingga pemasangan poster Almarhum Munir semaca hidupnya. Pada Tahun 2012 SD Muhammadiyah Batu juga turut serta dalam melukis sketsa wajah Munir.

“Saya ingat sekali saat membimbing dia. Dia (Munir:red), sering membantu teman-temannya, yang jelas dia suka bergaul dengan siapa saja,” kata guru Bahasa Indonesia di SD Muhammadiyah itu. Menurut dia, aksi yang dilakukan oleh sekolah merupakan bentuk perhatian sekolah pada sosok almarhum Munir, yang hingga saat ini pihak aparat hukum belum bisa menangkap `aktor` di balik kematian aktivis HAM tersebut.

SD Muhammadiyah Kota Batu, tempat belajar Munir merupakan sekolah dasar favorit di Kota Batu. Kepada Sangpencerah.id, Bapak Tsalis Rifa’i, ST yang kini menjabat sekretaris PDM Kota Batu mengungkapkan “Alhamdulillah, SD Muhammadiyah Kota Batu terus berkembang dengan baik, setiap tahun kita selalu menolak murid. Tahun 2016 ini saja kita hanya menerima 200 murid baru, sedangkan yang mendaftar mencapai 500 an, bahkan untuk Tahun ajaran 2017/2018 hingga 2018/2019 sudah banyak yang inden untuk mendaftar”, ujarnya.

14291669_295508940818089_5529247087957645424_n
SD Muhammadiyah Kota Batu (Foto: Ust.Tsalis Rifai ST)

Tingginya minat masyarakat Kota Batu untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah ini, tak lepas dari prestasi dan aktivitas yang mengagumkan dari sekolah yang sudah puluhan tahun berdiri ini. Sekolah ini memadukan kurikulum umum dan agama dengan sangat harmonis, setting lingkungan sekolah yang cukup asri dipenuhi dengan taman yang indah,  kegiatan-kegiatan  kreatif yang bervariasi menjadikan para pelajar betah dan semangat berlama-lama di sekolah. Dari sejak zaman Munir belum sekolah disini hingga hari ini, SD Muhammadiyah Kota Batu menjadi taman edukasi yang menyenangkan. Kini sekolah inipun  terus berkembang, bagian dari jejak kehidupan seorang pejuang HAM yang layak kita kenang (sp/jwt)

 

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaPP Muhammadiyah Targetkan 80 Persen Aset Tersertifikasi
Berita berikutnyaHaedar Nashir : Muhammadiyah Bengkulu Sangat Kuat dan Maju