Prestasinya Dipicu Rasa Cemburu

Sangpencerah.id – Kondisi tubuh sang kakak tidak sempurna, namun ia sering menyabet penghargaan. Kondisi itu sempat membuat Muhammad Fikri Haikal cemburu. Cemburu dengan prestasi sang kakak yang tunanetra sejak usia 3 bulan. Tapi justru rasa cemburu itulah yang memicu Fikri panggilan akrabnya itu untuk lebih berprestasi.

Fikri sendiri merupakan salah satu anak asuh sebuah yayasan sosial di Surabaya. Perasaan itu dijadikannya motivasi oleh si bungsu dari lima bersaudara ini. Bagaikan cambuk yang siap memacu dirinya ketika terlena dengan dunianya. Sejak saat itu ia mulai memilah dan memilih kegiatan mana yang akan diikutinya.

“Sempat sih iri sama kakak yang punya banyak prestasi dan bisa cari uang sendiri. Tapi itu malah memotivasiku. Pikirku waktu itu, aku nggak boleh kalah sama kakak. Kakak dengan ketidaksempurnaannya bisa punya banyak prestasi, masak aku yang normal kalah sama kakak,” kenang Fikri.

Pertama kali masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia langsung memilih ekstrakurikuler Pencak Silat TAPAK SUCI Putera Muhammadiyah. Siapa sangka, rasa cemburu itu mampu menjadi cambuk yang ampuh untuk melecut anak laki-laki dari pasangan Agus Priyonggowarsito dan Sri Wahyu Ningsih.

Hanya butuh 1,5 tahun untuk berlatih di Perguruan TAPAK SUCI, ia telah berhasil menyabet gelar juara. Selama menjadi siswa SMP Muhammadiyah 2 Surabaya, ia telah menyumbangkan 6 gelar juara untuk mengharumkan nama sekolah dan perguruannya.

Pada tahun 2014, laki-laki kelahiran Surabaya ini, mendapatkan juara III Pra-Remaja dalam ajang Tapak Suci Surabaya Cup. Di tahun yang sama, ia juga menjadi Juara II Kategori Seni Ganda Tangan Kosong Bersenjata Putra, dalam Airlangga Championship Tapak Suci National Open Cup 2014.

Seakan menjadi tahun emas, ia pun kembali menjadi Juara III Ganda Putra, di kejuaraan Piala Walikota Surabaya 2014. Lalu, ia kembali dikirim oleh sekolah untuk mewakili perguruannya di Festival Olahraga Bela Diri Tradisional Indonesia 2014, dan disini Fikri merebut Rank V.

“Awalmya dulu di Tapak Suci, aku ikut vektor selama 1,5 tahun. Lalu waktu kelas 8 Semester 2, dipilih untuk ikut seni ganda putra di Malang. Sejak itu aku lebih sering main ganda, dan jarang main vektor lagi,” kenangnya.

Karena belum puas hanya mendapatkan juara II dan III, ia pun mencoba kembali di tahun berikutnya. Masih menjadi siswa SMP Muhammadiyah 2, di tahun 2015, ia berjuang dalam Festival Pencak Silat se-Jawa Bali di Bandung. Dalam ajang kali ini, ia hanya mampu menduduki 5 besar.

Tak pantang menyerah, itulah sikap yang ia teladani dari kakaknya. Remaja 15 tahun ini, kembali berjuang dalam kejuaran SMAMDA Open 2015. Berkat tekadnya, ia berhasil membawa pulang Juara I Pra Remaja kategori Seni Ganda Putra.

“Karena bagiku juara II atau III itu masih aku anggap gagal. Makanya aku berusaha terus untuk jadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Sampai akhirnya bisa jadi juara I,” tuturnya.

Lantaran tak ingin meninggalkan Perguruan TAPAK SUCI-nya, ia pun memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Tak mau tanggung, ia langsung memilih ekstrakurikuler Pencak Silat TAPAK SUCI kembali.

Seakan tak ingin melepas gelar jawaranya, ia pun giat berlatih untuk mempersiapkan pertandingan selanjutnya. “Sebelum pertandingan, biasanya latihan ekstra selama 1 sampa 1,5 bulan. Biasanya latihan fisik sehari dua kali, kalau menjelang pertandingan bisa sampai tiga kali sehari,” ujarnya.

Berkat kerja keras dan tekun dalam berlatih, pada bulan Agustus 2015, ia berhasil membawa pulang Piala Walikota Surabaya Juara II Ganda Putra. Dalam Kejuaraan Pencak Silat antar Perguruan. Karena merasa tidak puas dengan hasil kejuaraannya, siswa kelas X ini, terus berlatih tanpa henti. Hingga pulang malam pun ia lakoni, demi kembalinya gelar sang jawara.

Tak hanya pulang malam, ketinggalan pelajaran di dalam kelas pun pernah ia rasakan. Namun, hal itu tidak membuat Fikri menyerah. Siswa jurusan IPS ini yakin, bisa mengejar ketertinggalannya. Perjuangannya tak sia-sia, pada bulan November 2015, ia menyabet Juara I Ganda Putra Piala KONI Kota Surabaya, dalam Kejuaraan Pencak Silat antar perguruan Silat se-Kota Surabaya.

Alhamdulillah, bisa menjadi juara I dan membalas kekalahan di Piala Walikota kemarin. Tentu senang sekali bisa menyumbang satu prestasi lagi buat sekolah, dan membanggakan orangtua. Apalagi sekolah sangat mendukung kegiatanku ini,” kata remaja kelahiran 19 Juli 2000 itu.

Setelah gelar jawara itu kembali padanya, ia pun serius mengejar ketertinggalannya di kelas. Beragam cara telah ia lakukan, mulai dari bertanya kepada teman, mengerjakan tugas yang terlewat, hingga menambah jam belajar di rumah.

“Waktu ketinggalan pelajaran, orangtua sempat marah. Tapi ketika aku bisa membuktikan bahwa nilaiku baik-baik saja dan stabil, mereka pun mendukungku kembali. Kuncinya itu, kita harus pintar-pintar membagi waktu dan memaksimalkan waktu luang,” pungkasnya.

Sumber: al-falah ed.337

BAGIKAN
Berita sebelumyaPP IPM: Full Day School Solusi Membangun Karakter Siswa
Berita berikutnyaMuhammadiyah Gayo Lues Dari Masa Ke Masa