Tentang Mu’allimat : Kejujuran Santriwati Ketika Dicegat Oknum Polisi

ilustrasi

SangPencerah.com- Selepas jama’ah masjid di musholla dan menuntaskan beberapa lembar mushaf Al-Qur’an kami berkumpul di ruang tengah melanjutkan menikmati hidangan buka puasa. Suasana lebih santai dan ringan untuk bercengkerama karena tidak lagi diiringi lapar dan dahaga.

Prisma, anak sulung saya yang saat ini memasuki kelas 12 di Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah, salah satu pondok pesantren yang dikelola PP Muhammadiyah di Jogjakarta, menceritakan temannya saat ditilang oknum polisi di salah satu kawasan kota pelajar tersebut.

Sebut saja Rifki santri asli Jogja yang kebetulan mengajak temannya Fatim (nama samaran) untuk menginap di rumahnya. Saat keduanya berboncengan naik motor untuk sebuah keperluan, tiba-tiba dicegat oleh oknum polisi karena ada indikasi pelanggaran UU lalu lintas. Lalu oknum tersebut minta uang damai Rp. 250.000,-

“Maaf Pak, tapi aku hanya punya uang lima puluh ribu,” Rifki merengek karena memang hanya nominal itu yang ada di dompetnya.

“Ya sudah nggak apa-apa”, jawaban oknum yang sudah bisa diduga sebelumnya.

Tetapi ketika lembaran bergambar Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai hampir berpindah tangan, Fatim yang berasal dari Kalimantan itu tiba-tiba berkata,”Rif…,ini aku juga ada kok dua ratus ribunya,” sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.

Polisi : ??????

—————————————————————————————————

Diceritakan oleh : Sugiyanto Herman, Aktivis Muhammadiyah Klaten, tinggal di Boyolali, Jawa Tengah