Jejak Muhammadiyah Kalbar Tertulis Pada Bangunan Megah Masjid At Tanwir

ilustrasi

SangPencerah.com-Didesain oleh Ir. Ismuni, salah satu pengurus majelis dan pendidikan Muhammadiyah ini memang memiliki latar belakang ilmu arsitektur. Tak heran kalau Masjid At-Tanwir dibuatnya tampil beda dengan masjid lain pada lazimnya.

Lantai dasar masjid At-Tanwir merupakan aula masjid yang sekarang dipergunakan sebagai pusat Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam. Lembaga ini merupakan tempat umat Islam menuntut ilmu secara gratis.

Lantai dua dan tiga adalah masjid At-Tanwir sesungguhnya. Pada lantai dua dan tiga kegiatan ibadah dilakukan dan  masjid dapat menampung sekitar 1.500 jamaah.

Nuansa Arab atau Negara Timur Tengah tidak banyak menghiasi eksterior dan interior masjid. Tentu ada makna dan arti dari beberapa bagian masjid, dan dijelaskan oleh H Nilwani Hamid selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Kalimantan Barat.

Dimulai dari pintu masuk masjid At-Tanwir yang memiliki dua lapisan gerbang. Itu mengingatkan sudah memasuki abad kedua berdirinya Muhammadiyah di Indonesia, yang berawal mula berdiri di Yogyakarta pada tahun 1921.

Masjid At-Tanwir memiliki kubah masjid dengan bentuk yang berbeda dari masjid pada umumnya dan menara masjid tampak tak begitu tinggi tapi sungguh menawan dengan pemanfaatan sedikit kaca pada dinding menara tersebut.

Nilwanil Hamid menjelaskan bahwa bagian masjid tersebut memiliki makna bahwa masjid At-Tanwir memiliki desain bergaya modern. Dijelaskannya, kubah masjid memang sengaja tak dibentuk setengah lingkaran seperti pada kubah masjid umumnya. Karena menurut sejarah, bentuk itu bukanlah bentuk asli milik umat Muslim melainkan milik bangsa Persia.

Menara masjid At-Tanwir yang berdiri kokoh juga tak hanya sekadar menara masjid biasanya. Nilwanil memaparkan bahwa menara tersebut memiliki tinggi 36 meter. Tinggi tersebut memiliki arti penting bagi Muhammadiyah. Menurut sejarahnya, Muhammadiyah mulai masuk ke Kalimantan Barat sejak tahun 1936.

Masuknya Muhammadiyah ke Kalimantan Barat melalui tiga ulama asal Yogyakarta dan Padang. Bernama Ustaz Khatid Satibi, Ustaz Abdul Manaf Siasa, dan Ustaz Muhammad Akib yang kemudian menjabat sebagai Pimpinan Kementerian Agama pertama di Kalimantan Barat.

Ruang ibadah masjid At-Tanwir di lantai dua dan tiga tak begitu banyak corak motif asal Arab ataupun Negara Timur Tengah lainnya menghiasi ruangan tersebut. Hal tersebut lantaran Muhammadiyah mensinergikan gerakan pembaharuan mereka dengan bentuk modernisasi dan proses pembangunan. “Pembaharuan Muhammadiyah ini bermakna pemurnian dan pengembangan pemikiran,” kata Nilwani Hamid.

Sesuai namanya yang berarti pencerahan, Masjid AT-Tanwir diharapkan Nilwani menjadi tempat ibadah bagi semua umat Muslim. “Kami sarankan untuk salat di masjid At-Tanwir. Kami tidak membeda-bedakan jamaah masjid meski ini didirikan oleh Muhammadiyah,” harap Nilwani

BAGIKAN
Berita sebelumyaMiris, Kronologi Pelarangan Pembangunan Masjid Muhammadiyah Bireuen
Berita berikutnyaTeka-Teki Kenapa Disebut Ramadhan?