Islam Kaffah, Keistimewaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Mahasiswa UM Surabaya Memamerkan Desain Karyanya, Foto: Berita Jatim
Mahasiswa UM Surabaya Memamerkan Desain Karyanya, Foto: Berita Jatim

SangPencerah.com- Perbedaan perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) dengan perguruan tinggi  (PT) lainya tercermin dalam tugasnya. Tugas perguruan tinggi tercermin dalam “tri dharma” yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Tugas PTM ditambah satu dharma lagi yaitu al-Islam dan Kemuhammadiyahan sehingga menjadi “catur dharma”. Dengan demikian, dharma yang keempat inilah yang menjadi ciri khas PTM yang tidak dimilki oleh perguruan tinggi lainnya.

PTM mengemban tugas untuk  mengembangkan al-Islam dan kemuhammadiyahan karena PTM merupakan alat (instrument) bagi Muhammadiyah untuk melakukan dakwah amar makruf dan nahi munkar. Oleh karena itu, dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi, PTM tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai institusi dakwah.
Dakwah PTM terutama ditujukan kepada sivitas akademikanya yang terdiri atas dosen, karyawan dan mahasiswa di samping masyarakat di sekitarnya.

Materi dakwahnya meliputi al-Islam kaffah  yang merujuk pada firman-Nya : “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam agama Islam secara paripurna (kaffah)” (al-Baqarah [2] : 208). Hal ini tercermin dalam kurikulum institusional PTM yaitu mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Muatan Islam Kaffah

Para ulama telah berijtihad dalam merumuskan Islam kaffah sebagaimana dimaksud ayat tersebut. Mahmud Syaltut yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Al-Azhar, universitas Islam tertua, menyimpulkan bahwa Islam kaffah itu meliputi dua kelompok ajaran yaitu akidah dan syari’ah sebagaimana tercermin dalam judul buku yang ditulisnya “al-Islam : Aqidah wa Syari’ah”.

Abdul Wahhab Khallaf, menyimpulkan Islam kaffah pada tiga kelompok ajaran sebagaimana dijelaskan dalam bukunya “Ilm Ushul al-Fiqh” yaitu akidah (ahkam al-i’tiqadiyah), amaliah (ahkam al-‘amaliah) dan akhlak (ahkam al-khuluqiyah). Ahkam al-‘amaliah dibagi lagi menjadi  dua yaitu yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah)  disebut “ibadah” dan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya  (hablum minannas) disebut “mu’amalah”.

Rumusan dari kedua ulama tersebut sudah membuka wawasan kita tentang Islam kaffah. Meskipun demikian, kita tidak boleh terpaku apalagi terikat pada dua pendapat tersebut sehingga kita menjadi jumud.  Oleh karena itu, Muhammadiyah dalam Matan  Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah  (MKCHM) membuat rumusan tersendiri. Islam kaffah itu terdiri atas empat komponen yaitu akidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah duniawiyah yang merujuk pada alquran dan hadis Nabi saw.

Akidah berfungsi sebagai pondasi dalam kehidupan kita baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun bernegara; baik dalam dimensi ibadah, muamalah maupun akhlak. Ibadah memberikan tununan bagaimana semestinya  kita berhubungan dengan Allah sebagai tuhan kita sesuai dengan Sunnah rasul-Nya. Muamalah duniawiyah memberikan tuntunan bagaimana kita semestinya berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan akhlak memberikan panduan  dalam membentuk kepribadian dan karakter yang konsepsinya merujuk pada wahyu sebagaimana terdapat dalam alquran dan hadis.

Urgensi Islam Kaffah
Dalam salah satu kesempatan, Buya Hamka, ulama dan satrawan, pernah menasehati anaknya Rusydi Hamka. Kira-kira nasehatnya demikian. Anakku ! Dulu, ketika Ayah baru baca 40 buku (kitab) Ayah “mudah” menyalahkan bila menemui pendapat yang berbeda. Akan tetapi, kini, setelah Ayah membaca lebih dari 400 buku Ayah tidak mudah menyalahkan.  Dengan demikian, luas pandangan itu sangat penting, termasuk dalam memahami ajaran Islam yang memcerminkan wawasan keislaman kita.

Wawasan Islam kaffah ini sangat penting ditanamkan  pada mahasiswa yang akan menjadi pemimpin di masa depan (syubbanulyaum rijalulghad). Dengan bekal ini, mahasiswa akan menjadi luas pandangannya dan wais dalam menghadapi perbedaan. Mereka tidak mudah menyalahkan paham yang berbeda karena berbeda dalam menafsirkan ajaran Islam apalagi mengkafirkan (takfiri) kelompok yang berbeda aliran (madzhab) akibat dangkalnya pemahaman dan sempitnya wawasan. Pada akhirnya, mereka akan menerima perbedaan sebagai suatu keniscayaan (sunnatullah). Mereka bersikap toleran (tasamuh) dan mau hidup berdampingan secara damai baik sebagai warga negara maupun sebagai warga dunia.

Mereka juga tidak akan mudah dicuci otaknya (brain wash) oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu seperti NII dan ISIS. Mereka tidak mudah terjerumus pada faham “radikal” yang memanipulasi konsep “jihad” dalam Islam sehingga terdistorsi pada “perang”. Konsep perang yang mereka jalankan-pun keliru karena tidak membedakan sasaran antara militer dan sipil seperti yang dilakukan Imam Samudra dkk. Padahal Nabi Muhammad saw telah memberikan panduan (guidens) bahwa sasaran perang hanyalah tentara, Oleh karena itu, dalam peperangan tidak boleh membunuh anak-anak, kaum wanita, para manula dan pendeta atau tokoh-tokoh agama karena mereka tidak terlibat dalam peperangan. Lebih dari itu, rumah-rumah ibadah tidak boleh dirusak termasuk juga pepohonan tidak boleh ditebang. Dengan demikian, dalam situasi perangpun Islam menghargai hak-hak azasi manusia  (HAM) dan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.

Menekankan Praktik
Walaupun berada pada dharma keempat, al-Islam dan Kemuhammadiyahan itu menjadi sentral dan mewarnai tri dharma perguruan tinggi. Oleh karena itu, perkuliahan AIK tidak cukup hanya sampai pada ranah kognitif, tetapi lebih dari itu yaitu mencapai ranah afektif dan psikomotorik. Perkuliahannya didisain tidak hanya menekankan teori berupa pemahaman ajaran Islam secara benar dan komperihensip, tetapi lebih dari itu harus menekankan aspek praktis yaitu penghayatan dan  pengamalan.

Praktik AIK dimulai dari Bina Baca alquran(BBQ) sehingga para mahasiswa dapat merasakan indahnya bacaan alquran yang dapat menggetarkan hati dan menenteramkan jiwa. Selanjutnya,  mahasiswa dibimbing untuk melakukan ibadah   sehari-hari ( Praktikum Ibadah dan Qira’at” dan Baitul Arqam) seperti salat, baik salat fardu maupun salat-salat Sunnah  baik yang dilakukan sendirian (munfarid) maupun bersama-sama (jama’ah). Salat yang dilakukan dalam perjalanan (musafir) maupun orang sakit (maridh) termasuk dalam tatacara bersucinya berupa tayammum sebagai pengganti wudu dan mandi wajib.

Dengan demikian, pembelajaran AIK PTM tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan para sajana yang pandai berteori tentang Islam (islamolog), tetapi lebih dari itu. Mereka juga menjiawai Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon yang tidak berbuah (al-‘ilmu bila amalin kasy-syajari bila tsamarin). Mereka menjadi familier dengan Islam, mencintai Islam dan pada akhirnya mau mendakwahkan  dan membela Islam (jihad) karena mereka telah merasakan indah dan manisnya ajaran Islam. Semoga bermanfaat. (sp/rol)

Penulis: Sopa, Kaprodi Magister Studi Islam, Universitas Muhammadiyah Jakarta.