Do’a Rasulullah SAW Agar Senantiasa Mencintai Orang Miskin

ilustrasi

SangPencerah.com- Berbicara nasib orang miskin rasa-rasanya amat dekat dengan yang namanya keterbatasan, kesusahan, penderitaan, penghinaan serta ‘penolakan’. Barangkali gambaran di atas agak berlebihan, namun dengan santernya kabar ditolaknya orang miskin berobat dan mungkin juga fasilitas layanan umum lainya karena keterbatasan dana belakangan ini kiranya membuktikan gambaran suram di atas.

Sungguhpun jumlah orang miskin diklaim oleh para pemangku kebijakan di negeri ini turun dari tahun ke tahun, namun faktanya orang miskin di sekitar kita masih ada untuk tidak mengatakan masih banyak. Sementara di satu sisi, jumlah penduduk kelas menengah di negeri ini naik cukup signifikan di tahun-tahun belakangan ini. Harapannya, dengan naik dan bertambahnya kelas menengah ini, berimbas juga pada kepedulian yang semakin tinggi terhadap nasib sekelompok masyarakat yang masih berkubang dalam garis kemiskinan.

Terkait dengan kepedulian terhadap orang miskin, Allah SWT pernah berfirman dalam sebuah hadis qudsi sebagai berikut :

“Wahai Muhammad, jika engkau shalat, ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-aluka fi’lal khairat wa tarkal munkarat wa hubbal masakin, wa an taghfirali wa tarhamani, wa idza aradta fitnata qawmin fatawaffanii ghaira maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba ‘amalan yuqarribu ila hubbik (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin,ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu)”. Dalam lanjutan hadits Nabi SAW menyebutkan, “Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah”. (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Perhatikanlah, salah satu doa yang dipanjatkan Nabi SAW kepada Allah SWT adalah memohon supaya diberi hati yang bisa mencintai orang miskin. Dengan hati yang dipenuhi rasa cinta pada si miskin tentunya akan mudah menggerakkan untuk simpati, peduli, serta membela dan menolong si miskin dalam segala suasana termasuk tatkala ia sedang menderita sakit.

Dalam riwayat Imam al-Bukhari, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad dijalan Allah -aku mengira beliau juga bersabda -(Al Qa’nabi ragu) -: Dan seperti orang yang salat malam tidak pernah istirahat- dan seperti orang puasa tidak berbuka.”

Lihatlah, betapa besar nilai pahala orang yang berjuang membela janda dan orang misklin atau kaum dhuafa, Nabi menyamakan kedudukannya setara dengan orang yang siangnya rajin berpuasa dan malamnya giat bertahajud.

Bahkan dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi menceritakan nanti Allah akan menuntut sikap orang yang yang tak peduli dengan nasib sesama terutama yang sedang dilanda kesusahan sebagaimana dapat dimengerti dari riwayat berikut ini :

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat kelak, Allah Azza wa Jalla akan berfirman, ‘Hai manusia, sesungguhnya Aku dulu sakit, tetapi mengapa kamu tidak menjenguk-Ku’ Manusia menjawab, ‘Ya Tuhan, bagaimana saya akan menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Bukankah kamu tahu bahwasanya hamba-Ku, si fulan, dulu sakit, tetapi mengapa kamu tidak menjenguknya? Tidak tahukah kamu bahwasanya jika kamu dulu menjenguknya, maka kamu akan menjumpai-Ku di sisinya?’ Lalu Allah bertanya lagi, ‘Hai manusia, dulu Aku minta makan kepadamu {karena lapar}, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan?’ Manusia menjawab, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin saya dapat memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ Allah berfirman, ‘Tidakkah kamu tahu bahwasanya hamba-Ku, si fulan,meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Tidakkah kamu tahu bahwasaya jika dulu kamu memberinya makanan, niscaya kamu akan mendapatkan makanan itu di sisi-Ku? Hai manusia, dulu Aku meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku minum?’ Manusia menjawab, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin saya akan memberi Engkau minum , sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?’ Allah berkata, ‘Dulu hamba-Ku, sifulan, minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Tidakkah kamu tahu bahwasanya jika dulu kamu memberinya minum, maka kamu pun akan mendapatkan minuman itu di sisi-Ku.’ {Muslim 8/13}

Dalam  riwayat di atas, orang yang tidak menjenguk saudaranya yang sakit saja kena teguran dan tuntutan yang keras dari penguasa semesta ini, apalagi bagi tabib, dokter, paramedis, perawat dan siapa saja yang memiliki tugas terkait dengan kesehatan sampai menolak tanpa alasan yang jelas, sudah bisa dibayangkan teguran apa yang kelak akan diterimanya.

Jadi siapa saja yang ketika di dunia ini, terutama orang mampu, pejabat yang bertanggung-jawab terhadap urusan terkait, melalaikan dan mengabaikan hak-hak si miskin papa maka kelak akan dituntut langsung oleh Allah SWT. Semoga kita tidak termasuk yang dituntut itu. (sp/jwt)

Naskah Kiriman dari Dr. Ali Trigiyatno,

Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kabupaten Batang

Editor : redaksi