Fikih Al-Ma’un: Pandangan Tarjih Terhadap Penanganan TB- HIV/AIDS

ilustrasi
ilustrasi

SangPencerah.com- Sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin, Islam mengajarkan kepedulian terhadap nasib manusia, termasuk mereka yang rentan dan para penderita TB-HIV. Kepedulian itu terungkap dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis Nabi, terutama dalam surat al-Ma’un. Surat al-Ma’un secara praksis telah menjadi inspirasi untuk mengembangkan kepedulian melalui gerakan pelayanan dan empati khususnya buat mereka yang terpinggirkan baik secara sosial, pendidikan dan kesehatan.

Perluasan Makna Yatim

Meskipun surat al-Ma’un lebih sering dikaitkan dengan penanganan anak yatim dan fakir-miskin, bukan berarti aplikasi fikihnya hanya berhenti sampai di sini. Bila dilakukan kajian lebih dalam, maka anak yatim yang disebut dalam surat tersebut bisa diperluas maknanya. Dalam ayat kedua surat al-Ma’un disebutkan kata yadu‘u, yang biasa diterjemahkan menghardik. Dalam bahasa Arab, kata ini berarti menolak dengan keras. Dalam penolakan keras itu ada sikap kasar dan kejam, sehingga dalam beberapa kitab tafsir kata itu disejajarkan dengan perlakuan dengan kejam tanpa belas kasihan.

Kemudian pengertian yatim yang umum diketahui adalah anak yang sebelum mencapai usia baligh atau dewasa, ayahnya telah meninggal dunia. Namun pengertian yang sebenarnya tidak hanya itu. Dalam bahasa Arab, yatim berarti orang yang sendirian (munfarid). Kemudian dalam penggunaannya sebagai istilah teknis (dalam fikih) ia diberi pengertian sebagai anak yang sebelum baligh hidup sendirian, terputus hubungan dari atau kehilangan ayahnya yang memberinya nafkah.

Ungkapan yadu’ul yatim (menghardik yatim) tidak sekedar menunjuk sikap kasar kepada anak yatim, tapi menunjuk makna yang jauh lebih dalam, yakni menghina dan meremehkan orang lemah yang tidak memiliki pelindung. Anak yatim merupakan representasi nyata dari manusia yang lemah dan memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Pada zaman Nabi SAW, di samping ada penyakit, kejahatan dan laki-laki yang tidak tertanggung jawab, juga banyak perang antar suku dan negara dan banyak pengembaraan. Mengingat ini maka bisa dipastikan bahwa pada masa itu banyak anak yang menjadi yatim tidak hanya karena orang tuanya meninggal lantaran sakit, menjadi korban kejahatan atau gugur di medan perang, tetapi juga lantaran ayah mereka merupakan pria yang tidak bertanggung jawab atau pergi mengembara dan tidak kembali lagi ke rumah.

Yatim Sosial

Oleh karena itu pengertian yatim di zaman Nabi SAW tentunya tidak terbatas pada pengertian pertama yang umum diketahui itu. Selain itu dalam khazanah kearifan Arab terdapat perkembangan pengertian yatim yang tidak dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tapi dihubungkan dengan ilmu dan moralitas. Kearifan itu menyatakan: “Orang yatim itu bukanlah orang yang ayahnya telah meninggal, tetapi orang yang tidak memiliki ilmu dan budi pekerti.”

Berdasarkan pemahaman makna dalam pembahasan sebelumnya, maka yatim yang seharusnya mendapatkan pelayanan bukan hanya anak yang terlantar secara ekonomi, tapi juga anak yang terlantar pendidikan, pemeliharaan kesehatan dan pembinaan akhlaknya. Mereka itu dapat meliputi anak-anak yang orang tua atau keluarga mereka, karena kemiskinan dan sebab-sebab yang lain, tidak dapat melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pengasuh, seperti anak-anak TKI/TKW, anak-anak jalanan dan anak-anak yang menjadi korban trafficking (perdagangan manusia), narkoba, salah pergaulan dan korban teknologi komunikasi.

Dengan memperhatikan substansi keyatiman itu adalah “kesendirian”, maka orang-orang yang dikucilkan masyarakat dengan alasan tertentu, seperti penyakit dan orientasi seksual, juga dapat dikelompokkan sebagai yatim. Mereka itu adalah ODHA (orang dengan HIV/AIDS), penderita lepra dan lain-lain. Termasuk disini, penderita TB-HIV bisa dimasukkan sebagai yatim, yaitu yatim yang berhak mendapatkan pengkhidmatan karena alasan sosial.

Bantuan Kesehatan

Dalam ayat selanjutnya disebutkan kata yahudhu yang berarti mendorong dan menganjurkan. Di sini tidak sekedar mukmin yang membenarkan agama, menghimbau orang lain untuk menyantuni orang miskin setelah ia sendiri melakukan penyantunan kepadanya, melainkan juga ketika ia tidak dapat memberi bantuan materi karena keadaannya, ia aktif meminta orang lain untuk memberikan santunan.

Bantuan yang diberikan bisa berupa tha’am yang berarti makanan yang menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi supaya orang dapat hidup layak. Kebutuhan primer ini di zaman agraris dulu meliputi pangan, sandang dan papan. Keadaan zaman mempengaruhi fikih yang pada umumnya merumuskan kewajiban nafkah kepada keluarga meliputi tiga hal itu, yang dalam bahasa Arab disebut iṭ’âm, kiswah dan iskân. Pada zaman industri sekarang ini, untuk dapat hidup layak orang harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan bersaing.

Untuk itu dibutuhkan pendidikan dan kesehatan, sehingga berkhidmat kepada yang yatim dan miskin pada zaman sekarang ini tidak cukup hanya dengan memberikan pangan, sandang dan papan (feeding) saja, tapi juga kebutuhan lain yang dapat membuatnya bertahan hidup, sehingga pelayanan itu juga meliputi pendidikan (schooling) dan kesehatan (healing).

Pekerja Seks Komersil

Dalam surat al-Ma’un mereka yang lemah secara ekonomi disebut dengan ungkapan fakir dan miskin. Fakir adalah orang yang patah tulang punggungnya, dalam arti bahwa beban yang dipikulnya sedemikian berat sehingga “mematahkan” tulang punggungnya. Sementara miskin orang yang keadaannya lebih buruk daripada fakir. Batasan bahwa orang miskin itu keadaannya lebih parah daripada orang fakir berhubungan dengan pekerjaan. Orang fakir itu adalah orang yang memiliki pekerjaan, namun meskipun telah bekerja keras sampai tulang belakangnya melengkung (Jawa: deyek-deyek), dia tetap mengalami kekurangan sehingga masih membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apabila demikian maka miskin itu adalah orang yang tidak memiliki pekerjaan sehing ga tidak hanya mengalami kekurangan, tapi tidak memiliki apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Orang tidak memiliki pekerjaan karena banyak faktor, di antaranya adalah tiadanya lapangan kerja, cacat badan dan diskriminasi. Berhubungan dengan ini ada pekerjaan yang secara agama tidak halal, seperti pelacuran dan agen perjudian, tetapi kalau tidak melakukannya, orang menjadi tidak memiliki pekerjaan. Berdasarkan ini maka orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan karena kemiskinannya sudah barang tentu adalah orang miskin yang sudah biasa diketahui (fakir).

Selain mereka adalah kaum pengangguran dan penyandang cacat, juga agen perjudian dan pekerja seks komersial (PSK) dan waria. Berkaitan dengan tiga yang terakhir ini perlu ditegaskan bahwa berkhidmat kepada mereka tidak berarti membenarkan pekerjaan dan perilaku yang mereka kerjaan, tapi untuk memberdayaan mereka bisa terentas dari keadaan yang mereka alami. Hal ini sesuai dengan kenyataan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang memiliki peran sosial dan kultural dalam penegakan hukum, bukan negara yang memiliki peran struktural memaksakan berlakunya hukum. (sp/tbcare)

 (Disarikan dari tulisan Dr. Hamim Ilyas, “Fikih Al-Ma’un: Pandangan Tarjih Terhadap Penanganan HIV/AIDS”).