Bolehkah Jamak Taqdim Sholat Jum’at dan Sholat Ashar ?

Tanya:
Assalamu’alakum w.w. 
Saya ingin bertanya, boleh tidak shalat ashar dijamak taqdim setelah shalat Jum’at (ketika bepergian di hari Jum’at?)
Terima kasih.
Umar Arifin, umararifin67@gmail.com
Jawab:
Wassalamu ‘alaikum w.w.
Terima kasih diucapkan kepada saudara Umar Arifin atas pertanyaan yang disampaikan kepada admin Sang Pencerah. Semoga Allah senantiasa memberikan ridla-Nya.

Perlu diketahui, bahwa dalam ajaran Islam memang ada tuntunan melaksanakan ibadah shalat secara jamak dan qashar.

Shalat jamak adalah mengerjakan dua shalat pada salah satu waktu di antara dua shalat tersebut, yaitu shalat Zuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu shalat Zuhur, yang dikenal dengan istilah shalat jamak taqdim (mendahulukan shalat yang belakangan ke waktu shalat yang lebih awal), atau pun shalat Maghrib dan shalat Isyak yang dikerjakan pada waktu shalat Isyak, yang dikenal dengan istilah shalat jamak ta’khir (mengakhirkan shalat yang lebih awal ke waktu shalat yang belakangan). Tidak ada ketentuan jamak untuk shalat subuh. Dasar hukum pelaksanaan shalat jamak ini adalah beberapa hadis berikut,

1. Hadis riwayat Muslim dari Anas:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ. [رواه مسلم]
“Adalah Rasulullah saw apabila akan bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan shalat Zuhur pada waktu Ashar, apabila masuk waktu Ashar lalu menjamak kedua shalat tersebut (Zuhur dengan Ashar) di waktu Ashar, dan apabila sebelum berangkat matahari sudah tergelincir, beliau menjamak shalat Zuhur dengan Ashar, lalu pergi.”

2. Hadis riwayat Ahmad dari Kuraib dari Ibnu Abbas, lbnu Abbas berkata:

أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ قَالَ قُلْنَا بَلَى قَالَ كَانَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ فِي مَنْزِلِهِ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ يَرْكَبَ وَإِذَا لَمْ تَزِغْ لَهُ فِي مَنْزِلِهِ سَارَ حَتَّى إِذَا حَانَتْ الْعَصْرُ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِذَا حَانَتْ الْمَغْرِبُ فِي مَنْزِلِهِ جَمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ وَإِذَا لَمْ تَحِنْ فِي مَنْزِلِهِ رَكِبَ حَتَّى إِذَا حَانَتْ الْعِشَاءُ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا. [رواه أحمد]

Artinya: “Maukah saudara-saudara kuberitakan perihal shalat Rasulullah saw sewaktu sedang bepergian? Kami menjawab, ya. Ibnu Abbas berkata: Apabila Rasulullah masih di rumah matahari telah tergelincir, beliau menjamak shalat Zuhur dengan Ashar sebelum berangkat, tetapi kalau matahari belum tergelincir, maka beliau berjalan hingga waktu shalat Asar masuk, beliaupun berhenti dan menjamak shalat Zuhur dengan Asar. Begitu juga selagi beliau di rumah waktu Maghrib sudah masuk, beliau menjamak shalat Maghrib dengan Isyak tetapi kalau waktu Maghrib belum lagi masuk, beliau terus saja berangkat dan nanti kalau waktu Isyak tiba, beliau pun berhenti untuk menjamak shalat Maghrib dan Isyak.”

Adapun shalat qashar adalah mengerjakan shalat dengan jumlah rakaat yang disingkat atau diperpendek, yaitu shalat Zuhur, Ashar atau Isyak dikerjakan sebanyak dua rakaat saja. Tidak ada ketentuan qashar untuk shalat Subuh dan Maghrib. Dasar hukum pelaksanaan shalat qashar adalah firman Allah dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ (4) ayat 101,
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ …
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalatmu, …”

Selanjutnya, mengenai hal yang saudara tanyakan, yaitu tentang jamak taqdim antara shalat Jum’at dengan shalat Ashar, kami belum mendapatkan dalil khusus mengenainya. Namun demikian, menurut hemat kami dalil-dalil umum di atas dapat digunakan sebagai dasar untuk persoalan tersebut, yang berarti jamak taqdim antara shalat Jum’at dengan shalat Ashar dapat dilakukan. Hal ini mengingat shalat Jum’at sendiri adalah pengganti shalat Zuhur pada hari Jum’at, yang dilaksanakan dalam waktu (jam) yang sama juga dengan shalat Zuhur, yakni setelah tergelincirnya matahari, sebagaimana hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim berikut,

قَالَ سَلَمَةُ بْنُ اْلأَكْوَعَ كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَتَّبِعُ اْلفَيْءَ.
Artinya: “Telah berkata Salamah bin al-Akwa’ bahwasanya kami bersembahyang Jum’at bersama Rasulullah saw apabila matahari telah tergelincir dan kami kembali pulang dengan mengikuti bayangan kami.”

Demikian pula halnya dengan qashar, maka shalat Ashar yang dilaksanakan secara jamak taqdim dengan shalat Jum’at tersebut dapat dilakukan secara qashar, mengingat keadaannya pada saat safar (bepergian).

Jadi, sebagai kesimpulan, teknisnya adalah setelah menunaikan shalat Jum’at dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar sejumlah dua rakaat.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

~Tim Sang Pencerah~

BAGIKAN
Berita sebelumyaTips Mengendalikan Kemarahan
Berita berikutnyaZaskia Medca : Tidak Benar Hanung itu JIL, Tudingan Hanum S. Rais adalah Fitnah