Mualaf Australia: Islam Agama yang Cinta Damai

Laman The Australia di
2011 lalu pernah menulis bahwa jumlah kaum Muslim di Australia akan
terus meningkat hingga empat kali lipat 20 tahun mendatang. Artinya, di
2030, Muslim Negeri Kanguru bertambah dari 399 ribu menjadi 714 ribu
atau meningkat 80 persen.

Hasil studi Pusat Riset Pew di Amerika
Serikat ini menunjukkan minat warga Australia dalam mempelajari Islam
cukup besar. Salah satunya diakui sendiri oleh Reuben Brand, seorang
mualaf asal Sydney.

Peserta program Pertukaran Pemuda Muslim
(MEP) tahun ini mengaku sudah sejak lama tertarik untuk belajar agama
Islam. Pria 22 tahun ini mengakui bahwa semua agama di dunia mengajarkan
kebaikan, tetapi hanya Islam yang membuatnya tertarik.

“Tetapi, satu agama yang menarik perhatian saya dan ingin saya dalami yaitu Islam,” kata Brand kepada VIVAnews, Selasa 13 Mei 2014.

Dia
mengaku bahwa pertama kali mengenal Islam dari kawannya. Mereka kerap
terlibat pembicaraan mengenai politik, sejarah, dan Islam.

Brand
menjelaskan, kehidupan sebagai seorang Muslim di Negeri Kanguru sama
saja dengan menjadi pemeluk agama lainnya. Menjadi seorang Muslim di
Australia, kata dia, tidak mengubah apa pun dalam hidupnya.

“Kami
tetap dapat beribadah secara bebas. Ada beberapa masjid di setiap kota
besar di Australia. Apabila tidak ada masjid, musala pun bisa terlihat
di hampir seluruh penjuru Australia. Di Melbourne, saat ini, sudah
terdapat 50 masjid,” kata dia.


Islam Cinta DamaiDitanya soal sterotipe
Islam yang lekat dengan tindak kekerasan, khususnya setelah terjadi
tragedi kemanusiaan 11 September 2001, Brand menepis anggapan itu. Di
matanya, peristiwa itu tidak mewakili Islam yang sesungguhnya.

“Islam
adalah agama yang cinta damai. Sebagai seorang Muslim yang baik, kami
mencoba untuk memberikan pendidikan kepada publik soal itu. Hubungan
antarwarga seperti program MEP ini tentu dapat meningkatkan pemahaman
mengenai Islam,” kata dia.

Dia pun menepis anggapan warga
Australia rasis. Brand menegaskan, Negeri Kanguru adalah negara
multikultural dan etnis. “Sebanyak 49 persen warga Australia dilahirkan
di luar negara kam,i dan kita datang dari berbagai latar budaya
berbeda,” ujar dia.

Fakta itu, lanjut Brand, mencerminkan
luasnya keragaman budaya komunitas Muslim Australia dan betapa warga
Australia begitu hangat terhadap orang baru yang datang dari beragam
etnis. Ditanya hal yang ingin dipelajarinya selama di Indonesia, Brand
mengatakan ingin mengetahui soal semangat Pancasila.

“Di Australia, kaum Muslim merupakan minoritas, sedangkan di sini
menjadi mayoritas. Pancasila merupakan konsep yang bagus untuk kami.
Bagaimana warga Australia dapat hidup secara berdampingan dengan orang
dari latar belakang berbeda,” tutur dia.

Brand merupakan satu
dari lima pemuda Muslim yang terpilih dalam program MEP 2014. Menurut
situs resmi Kedutaan Besar Australia, program itu sudah dimulai sejak
2002, sebagai langkah untuk mempromosikan pemahaman mengenai Islam di
kedua negara.

Sejauh ini, 47 warga Australia dan 122 warga
Indonesia telah berpartisipasi dalam program tersebut. Selain berkunjung
ke Jakarta, peserta MEP 2014 asal Australia juga menyambangi Bandung
dan Yogyakarta.[sp/vivanews]