Inilah Alasan Janda Korban Pemerkosaan Diancam Hukuman Cambuk

Kasus pemerkosaan yang menimpa seorang janda di Langsa, Provinsi
Aceh, menarik perhatian internasional. Sejumlah media asing, termasuk Dailymail 
(Inggris), menyorot perkara ini. Umumnya, media asing mempertanyakan
mengapa korban pemerkosaan justru dicambuk? (yang benar baru mendapatkan
ancaman hukuman cambuk)
 
Inilah keterangan Kepala Dinas Syariat Islam di Kota Langsa, Ibrahim Latif, memberikan keterangan lengkap di laman ATJEHPOST.com, Rabu (07/05/2014). Kasus ini mengandung dua hal: perzinaan dan pemerkosaan. Itu sebabnya, kasus ini dijadikan dua perkara terpisah.
Menurut Latif, sebelum diperkosa oleh sembilan pria, wanita itu
melakukan perbuatan zina dengan lelaki lain yang bukan suaminya. “Jadi
dia akan dihukum cambuk dalam perkara perzinahan, bukan pemerkosaan,”
kata Latief.
Sedangkan untuk kasus pemerkosaan, kata dia, tiga tersangka yang
telah ditangkap diserahkan ke polisi untuk diproses sesuai aturan KUH
Pidana.
Sedangkan dalam kasus perzinaan, tidak ada jerat hukum dalam KUH
Pidana, melainkan berdasarkan Qanun Syariat Islam yang berlaku di Aceh.
Pasal 22 Qanun Aceh Nomor 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (mesum)
menyebutkan,”Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana  dimaksud
dalam pasal 4, diancam dengan ‘uqubat ta’zir berupa dicambuk paling
tinggi 9 (sembilan) kali, paling rendah 3 (tiga) kali dan/atau denda
paling banyak Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), paling sedikit Rp
2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah).”
Mengapa pemerkosa tidak dihukum cambuk?
“Itu ranahnya polisi. Karena kalau dihukum secara hukuman syariat, ya
cambuk 9 kali dan terlalu ringan. Enak sekali mereka,” ujar Ibrahim.
Dalam Qanun Syariat Islam yang berlaku sekarang, kata Ibrahim, tidak mengatur tentang hukuman cambuk bagi pelaku pemerkosaan.
“Saya juga belum mengetahui adanya aturan terbaru soal ini
(pemerkosaan-red) dalam Qanun Syariat. Belum ada sosialisasi sama kami,”
kata dia.
Ibrahim lantas bercerita tentang awal mula kejadian itu. Berdasarkan
informasi yang diperoleh, kata dia, kasus ini berawal Kamis dini hari
pada 1 Mei 2014.
Saat itu, kata dia, sekitar pukul 01.00 dinihari seorang pria
berinisial W, 43 tahun, asal Desa Lekong, Kecamatan Langsa Baru, Kota
Langsa, kedapatan melakukan hubungan badan dengan janda berinisial Y, 25
tahun, di Desa Lhok Bani, Langsa Barat, Kota Langsa.
W adalah pria beristeri dan memiliki 5 orang anak. Sedangkan Y adalah
janda yang sudah pernah menikah 2 kali serta memiliki 2 anak.
“Berdasarkan pengakuan janda Y, malam itu pasangan ini keliling kota
dengan tujuan jalan-jalan. Sekitar pukul 01.00 WIB, keduanya pulang ke
rumah Y di Desa Lhok Bani. Pria W masuk melalui jendela terlebih dahulu,
kemudian disusul Y masuk melalui pintu utama sekitar 15 menit setelah W
masuk tadi,” kata Ibrahim Latif.
“Rumah janda Y kosong. Ini karena 2 anaknya tinggal bersama dengan mantan suami pertama,” kata Ibrahim lagi.
Rupanya, kata Ibrahim, pemuda desa sudah mengintai pasangan ini sejak
awal masuk rumah. Mereka pun kemudian mengerebek pasangan ini.
“Saat digerebek. Pria W ditemukan dalam lemari kain. Pemuda desa tadi
kemudian mengikat pria W dan disekap di kamar lain,” kata Ibrahim.
Sekitar pukul 05.00 WIB, Kamis dini hari, para pemuda desa ini
kemudian menyerahkan pasangan mesum ini ke Kepala Desa setempat.
Kemudian kepala desa kembali menelpon petugas Dinas Syariat Islam pada
pukul 06.00 WIB untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Nah, sampai di tangan kami lah, janda Y mengaku diperkosa oleh
pemuda yang mengerebeknya, yaitu berjumlah 9 orang,” ujar Ibrahim.
Awalnya, kata Ibrahim, pihaknya berpikir untuk menikahkan pasangan
ini sehingga proses selesai. Namun karena janda Y mengaku diperkosa,
terpaksa dilimpahkan ke Reskim Polres Langsa.
Untuk menindaklanjuti laporan ini, kata Ibrahim lagi, Dinas Syariat
Islam kemudian berkonsultasi dengan jajaran Reskim Polres Langsa.
“Sekitar pukul 11.00 WIB, janda Y dan pria W dibawa ke Reskim untuk
dimintain keterangan. Selanjutnya sekitar Kamis malam, 3 tersangka
pemerkosaan ditangkap oleh pihak Reskim,” ujar Ibrahim lagi.
Reskim Polres Langsa sendiri, kata Ibrahim, saat ini masih memburu tersangka lainnya.
“Jadi pada Kamis malam, Reskim kembali memulangkan janda Y dan pria W
pada Dinas Syariat Islam Langsa. Cuma persoalannya, kami (Dinas Syariat
Islam Langsa-red)-kan tidak memiliki penyidik, jadi untuk memproses
kasus mesum pria W dengan janda Y tetap harus melalui penyidik Polres
Langsa,” kata Ibrahim.
Atas alasan tersebut, kata Ibrahim lagi, pada Kamis malam juga,
pihaknya kembali menyerahkan pasangan ini ke Polres Langsa untuk
dilakukan penyidikan.
“Jika sudah selesai di tingkat penyidikan dan diserahkan ke Mahkamah
Syariah, baru diserahkan kembali kepada kami untuk mengesekusi putusan,
yaitu cambuk 9 kali,” ujar Ibrahim.
“Pengakuan janda Y sendiri, dia sudah sering melakukan hubungan  badan dengan pria W,” kata Ibrahim lagi.
Berdasarkan informasi yang diterima dari polisi, kata Ibrahim,
pasangan ini sudah dilepas dan dikenakan wajib lapor sembari menunggu
proses hukum syariat berjalan.
Perkara pemerkosaan terhadap pelaku yang dituduh melakukan mesum bukan kali ini saja terjadi. Pada 2010, tiga polisi syariat (Wilayatul Hisbah)
Kota Langsa memperkosa tahanan wanita berinisial MN, 29 tahun. Dari
tiga tersangka, dua sudah menjalani proses hukum, sementara satu lainnya
hingga saat ini masih buron.[sp/hidayatullah]
BAGIKAN
Berita sebelumyaProgram Infaqmu Untuk Penderita Komplikasi Kanker
Berita berikutnyaMengapa Muhammadiyah Tidak ber-Mahdzab ?