Da’i Patroli dari Gunungkidul, Pingin Meniru KH.Ahmad Dahlan

Lelaki dengan motor bebek bertuliskan ‘dai patroli’ menghentikan laju kendaraannya di perempatan jalanan Yogyakarta. Lampu merah sekitar 1-2 menit ia gunakan untuk berakasi.

“Hidup ini hanya sebentar, maka …..”

Lelaki berpakaian batik dan bersarung itu bak Rendra di jalanan nan terik.

“Wahai kalian yang belum berpasangan, janganlah …..”

Belakangan ini, Ahmad Tukiran Maulana (32) memvariasikan pendekatan dan area dakwahnya. Dengan tetap menyandang sebagai dai keliling, ia kini menjurus perempatan sebagai tempat efektif menebarkan kebaikan.

“Awalnya saya prihatin karena di perempatan Yogya banyak yang meminta-minta dengan hanya menggunakan kecrekan dan lagu tidak jelas,” terangnya.

Inspirasi dari para pengemis di lampu merah ia jadikan awal berdakwah di saat-saat menantikan lampu merah berganti hijau. Bila sehari-hari ia membujuk dan menyerukan orang untuk berbuat baik atau meninggalkan maksiat, di perempatan ia cukup berpuisi keras-keras dengan bait yang dikreasikannya. Isinya tidak sembarang. Selain berima, juga memuat pesan kebajikan atau larangan bertindak jahat. Bakat seninya selaku penikmat wayang digalinya.

Maulana bukanlah ustad seperti pemilik nama yang sama yang tengah beken di sebuah stasiun televisi. Maulana Yogya, lelaki kelahiran Ponjong Gunungkidul, ini tidak sedang bergaya-gaya di kamera. Ia memang mencari perhatian tapi bukan dalam rangka mendagel.

“Yang sudah baik banyak di dalam masjid apa di luar masjid sana?” Tanyanya kepada saya retoris soal pilihannya untuk lebih banyak berkiprah di jalanan.

Berteriak-teriak dengan puisi plus bermuatan dakwah tentu bukan pekerjaan sepele. Ada beban psikis bagi yang tidak terbiasa. Hanya mahasiswa baru yang tengah diplonco seniornya yang mau. Ini karena terpaksa. Kalau tidak dipaksa, saya ragu. Berbeda dengan Maulana. Ia siap disebut macam-macam. Orang gila, misalnya.

Tapi Maulana bergeming, ia punya dalih kuat. “Itu risikonya. Wong Kanjeng Nabi saja disebut gila bahkan dilempari batu saat di Thaif.”

Saya sendiri membayangkan betapa menjengkelkan pengendara di samping Maulana bila hati belum siap. Hidayah yang tercermin dari tarikan suara Maulana menjadi sia-sia hanya karena hati kita tengah sibuk menghitung mundur angka penunjuk di perempatan. Konsentrasi kita ke depan, bukan meladeni penyair kagetan.

Hebatnya Maulana, ia tidak membutuhkan jamaah; bahkan di jalanan sekalipun. Ia cukup ‘memaksakan’ kata-kata amar makruf nahi mungkar. Adapun perkara didengar atau tidak, dipraktikkan atau tidak, itu berkaitan dengan isi hati pendengarnya. Tugasnya, katanya, hanya menyampaikan perintah agama.

Tidak selalu tudingan miring, kadang sahut bersahut dengan pengendara lain terjadi. Seperti suatu hari ketika ia lafalkan puisi untuk tidak berboncengan dengan lawan jenis bukan mahram. Seperti mengerti apa yang dimaksud dengan puisi Maulana, seorang lelaki di sisi motornya menimpali. “Gue ini pasangan sah tahu?!”

Menjalani dai jalanan bagi Maulana tampaknya sebuah kehormatan. Tidak ada rasa malu apalagi risih. Kiprahnya melampaui keterbatasan fisiknya. Lebih cekatan dibandingkan para aktivis dakwah sekalipun. Dengan izin Allah, seorang diri tanpa embel-embel lembaga ia bisa dirikan mushala di lokasi pengungsian korban erupsi Merapi 2010. Kalaulah hari ini ia mulai dilirik media ibukota, saya merasa itu sebuah pertolongan Allah agar kebaikan yang dilakukannya menebar di tempat lain. persis seperti yang diharapkannya selama ini.

“Saya tidak butuh pengikut. Yang lebih penting adalah bagaimana cara-cara yang saya lakukan bisa dikerjakan di tempat lain.”

Ya, Maulana ingin para dai berkeliling, berpatroli di luar-luar mimbar masjid. Tidak lagi berharap ada amplop dan jemputan mewah, tapi kesiagaan menanggung malu dan risih ketika berhadapan dengan banyak orang di jalan. Melihat Maulana berpuisi di kemudi bebeknya, teringatlah saya pada sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan Muhammadiyah. Tanpa canggung, Kiah Dahlan menyerukan orang-orang di Stasiun Tugu untuk mengerjakan shalat. Dulu Kiai Dahlan mencoba, kini Maulana juga bergerak. Berikutnyakah Anda?

Paling tidak, ketika ada seorang lelaki berperawakan kurus di lampu merah Yogyakarta sibuk berteriak membacakan puisi di motornya, kita mendoakannya untuk terus istiqamah.
[sp/pcpminggir]

Lelaki dengan motor bebek bertuliskan
‘dai patroli’ menghentikan laju kendaraannya di perempatan jalanan Yogyakarta.
Lampu merah sekitar 1-2 menit ia gunakan untuk berakasi.
“Hidup ini hanya sebentar, maka …..”
Lelaki berpakaian batik dan bersarung itu
bak Rendra di jalanan nan terik.
“Wahai kalian yang belum berpasangan,
janganlah …..”
Belakangan ini, Ahmad Tukiran Maulana
(32) memvariasikan pendekatan dan area dakwahnya. Dengan tetap menyandang
sebagai dai keliling, ia kini menjurus perempatan sebagai tempat efektif
menebarkan kebaikan.
“Awalnya saya prihatin karena di
perempatan Yogya banyak yang meminta-minta dengan hanya menggunakan kecrekan
dan lagu tidak jelas,” terangnya.
Inspirasi dari para pengemis di lampu
merah ia jadikan awal berdakwah di saat-saat menantikan lampu merah berganti
hijau. Bila sehari-hari ia membujuk dan menyerukan orang untuk berbuat baik
atau meninggalkan maksiat, di perempatan ia cukup berpuisi keras-keras dengan
bait yang dikreasikannya. Isinya tidak sembarang. Selain berima, juga memuat
pesan kebajikan atau larangan bertindak jahat. Bakat seninya selaku penikmat
wayang digalinya.
Maulana bukanlah ustad seperti pemilik
nama yang sama yang tengah beken di sebuah stasiun televisi. Maulana Yogya,
lelaki kelahiran Ponjong Gunungkidul, ini tidak sedang bergaya-gaya di kamera.
Ia memang mencari perhatian tapi bukan dalam rangka mendagel.
“Yang sudah baik banyak di dalam masjid
apa di luar masjid sana?” Tanyanya kepada saya retoris soal pilihannya untuk
lebih banyak berkiprah di jalanan.
Berteriak-teriak dengan puisi plus
bermuatan dakwah tentu bukan pekerjaan sepele. Ada beban psikis bagi yang tidak
terbiasa. Hanya mahasiswa baru yang tengah diplonco seniornya yang mau. Ini
karena terpaksa. Kalau tidak dipaksa, saya ragu. Berbeda dengan Maulana. Ia
siap disebut macam-macam. Orang gila, misalnya.
Tapi Maulana bergeming, ia punya dalih
kuat. “Itu risikonya. Wong Kanjeng Nabi saja disebut gila bahkan dilempari batu
saat di Thaif.”
Saya sendiri membayangkan betapa menjengkelkan
pengendara di samping Maulana bila hati belum siap. Hidayah yang tercermin dari
tarikan suara Maulana menjadi sia-sia hanya karena hati kita tengah sibuk
menghitung mundur angka penunjuk di perempatan. Konsentrasi kita ke depan,
bukan meladeni penyair kagetan.
Hebatnya Maulana, ia tidak membutuhkan
jamaah; bahkan di jalanan sekalipun. Ia cukup ‘memaksakan’ kata-kata amar
makruf nahi mungkar. Adapun perkara didengar atau tidak, dipraktikkan atau
tidak, itu berkaitan dengan isi hati pendengarnya. Tugasnya, katanya, hanya
menyampaikan perintah agama.
Tidak selalu tudingan miring, kadang
sahut bersahut dengan pengendara lain terjadi. Seperti suatu hari ketika ia
lafalkan puisi untuk tidak berboncengan dengan lawan jenis bukan mahram.
Seperti mengerti apa yang dimaksud dengan puisi Maulana, seorang lelaki di sisi
motornya menimpali. “Gue ini pasangan sah tahu?!”
Menjalani dai jalanan bagi Maulana
tampaknya sebuah kehormatan. Tidak ada rasa malu apalagi risih. Kiprahnya
melampaui keterbatasan fisiknya. Lebih cekatan dibandingkan para aktivis dakwah
sekalipun. Dengan izin Allah, seorang diri tanpa embel-embel lembaga ia bisa
dirikan mushala di lokasi pengungsian korban erupsi Merapi 2010. Kalaulah hari
ini ia mulai dilirik media ibukota, saya merasa itu sebuah pertolongan Allah
agar kebaikan yang dilakukannya menebar di tempat lain. persis seperti yang
diharapkannya selama ini.
“Saya tidak butuh pengikut. Yang lebih
penting adalah bagaimana cara-cara yang saya lakukan bisa dikerjakan di tempat
lain.”
Ya, Maulana ingin para dai berkeliling,
berpatroli di luar-luar mimbar masjid. Tidak lagi berharap ada amplop dan
jemputan mewah, tapi kesiagaan menanggung malu dan risih ketika berhadapan
dengan banyak orang di jalan. Melihat Maulana berpuisi di kemudi bebeknya,
teringatlah saya pada sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan
Muhammadiyah. Tanpa canggung, Kiah Dahlan menyerukan orang-orang di Stasiun
Tugu untuk mengerjakan shalat. Dulu Kiai Dahlan mencoba, kini Maulana juga
bergerak. Berikutnyakah Anda?

Paling
tidak, ketika ada seorang lelaki berperawakan kurus di lampu merah Yogyakarta
sibuk berteriak membacakan puisi di motornya, kita mendoakannya untuk terus
istiqamah.


Sumber tulisan dan gambar: yusufmaulana.com
Judul asli, Dakwah Rendra dari Ponjong,
judul di atas saya ambilkan dari buku penulis yang sama, Tong Kosong Indonesia
Bunyinya.

– See more at: http://pcpmminggir.blogspot.com/2014/02/seruan-ahmad-dahlan-dari-ponjong.html#sthash.zZWcYXpe.dpuf

Lelaki dengan motor bebek bertuliskan
‘dai patroli’ menghentikan laju kendaraannya di perempatan jalanan Yogyakarta.
Lampu merah sekitar 1-2 menit ia gunakan untuk berakasi.
“Hidup ini hanya sebentar, maka …..”
Lelaki berpakaian batik dan bersarung itu
bak Rendra di jalanan nan terik.
“Wahai kalian yang belum berpasangan,
janganlah …..”
Belakangan ini, Ahmad Tukiran Maulana
(32) memvariasikan pendekatan dan area dakwahnya. Dengan tetap menyandang
sebagai dai keliling, ia kini menjurus perempatan sebagai tempat efektif
menebarkan kebaikan.
“Awalnya saya prihatin karena di
perempatan Yogya banyak yang meminta-minta dengan hanya menggunakan kecrekan
dan lagu tidak jelas,” terangnya.
Inspirasi dari para pengemis di lampu
merah ia jadikan awal berdakwah di saat-saat menantikan lampu merah berganti
hijau. Bila sehari-hari ia membujuk dan menyerukan orang untuk berbuat baik
atau meninggalkan maksiat, di perempatan ia cukup berpuisi keras-keras dengan
bait yang dikreasikannya. Isinya tidak sembarang. Selain berima, juga memuat
pesan kebajikan atau larangan bertindak jahat. Bakat seninya selaku penikmat
wayang digalinya.
Maulana bukanlah ustad seperti pemilik
nama yang sama yang tengah beken di sebuah stasiun televisi. Maulana Yogya,
lelaki kelahiran Ponjong Gunungkidul, ini tidak sedang bergaya-gaya di kamera.
Ia memang mencari perhatian tapi bukan dalam rangka mendagel.
“Yang sudah baik banyak di dalam masjid
apa di luar masjid sana?” Tanyanya kepada saya retoris soal pilihannya untuk
lebih banyak berkiprah di jalanan.
Berteriak-teriak dengan puisi plus
bermuatan dakwah tentu bukan pekerjaan sepele. Ada beban psikis bagi yang tidak
terbiasa. Hanya mahasiswa baru yang tengah diplonco seniornya yang mau. Ini
karena terpaksa. Kalau tidak dipaksa, saya ragu. Berbeda dengan Maulana. Ia
siap disebut macam-macam. Orang gila, misalnya.
Tapi Maulana bergeming, ia punya dalih
kuat. “Itu risikonya. Wong Kanjeng Nabi saja disebut gila bahkan dilempari batu
saat di Thaif.”
Saya sendiri membayangkan betapa menjengkelkan
pengendara di samping Maulana bila hati belum siap. Hidayah yang tercermin dari
tarikan suara Maulana menjadi sia-sia hanya karena hati kita tengah sibuk
menghitung mundur angka penunjuk di perempatan. Konsentrasi kita ke depan,
bukan meladeni penyair kagetan.
Hebatnya Maulana, ia tidak membutuhkan
jamaah; bahkan di jalanan sekalipun. Ia cukup ‘memaksakan’ kata-kata amar
makruf nahi mungkar. Adapun perkara didengar atau tidak, dipraktikkan atau
tidak, itu berkaitan dengan isi hati pendengarnya. Tugasnya, katanya, hanya
menyampaikan perintah agama.
Tidak selalu tudingan miring, kadang
sahut bersahut dengan pengendara lain terjadi. Seperti suatu hari ketika ia
lafalkan puisi untuk tidak berboncengan dengan lawan jenis bukan mahram.
Seperti mengerti apa yang dimaksud dengan puisi Maulana, seorang lelaki di sisi
motornya menimpali. “Gue ini pasangan sah tahu?!”
Menjalani dai jalanan bagi Maulana
tampaknya sebuah kehormatan. Tidak ada rasa malu apalagi risih. Kiprahnya
melampaui keterbatasan fisiknya. Lebih cekatan dibandingkan para aktivis dakwah
sekalipun. Dengan izin Allah, seorang diri tanpa embel-embel lembaga ia bisa
dirikan mushala di lokasi pengungsian korban erupsi Merapi 2010. Kalaulah hari
ini ia mulai dilirik media ibukota, saya merasa itu sebuah pertolongan Allah
agar kebaikan yang dilakukannya menebar di tempat lain. persis seperti yang
diharapkannya selama ini.
“Saya tidak butuh pengikut. Yang lebih
penting adalah bagaimana cara-cara yang saya lakukan bisa dikerjakan di tempat
lain.”
Ya, Maulana ingin para dai berkeliling,
berpatroli di luar-luar mimbar masjid. Tidak lagi berharap ada amplop dan
jemputan mewah, tapi kesiagaan menanggung malu dan risih ketika berhadapan
dengan banyak orang di jalan. Melihat Maulana berpuisi di kemudi bebeknya,
teringatlah saya pada sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan
Muhammadiyah. Tanpa canggung, Kiah Dahlan menyerukan orang-orang di Stasiun
Tugu untuk mengerjakan shalat. Dulu Kiai Dahlan mencoba, kini Maulana juga
bergerak. Berikutnyakah Anda?

Paling
tidak, ketika ada seorang lelaki berperawakan kurus di lampu merah Yogyakarta
sibuk berteriak membacakan puisi di motornya, kita mendoakannya untuk terus
istiqamah.


Sumber tulisan dan gambar: yusufmaulana.com
Judul asli, Dakwah Rendra dari Ponjong,
judul di atas saya ambilkan dari buku penulis yang sama, Tong Kosong Indonesia
Bunyinya.

– See more at: http://pcpmminggir.blogspot.com/2014/02/seruan-ahmad-dahlan-dari-ponjong.html#sthash.zZWcYXpe.dpuf

Lelaki dengan motor bebek bertuliskan
‘dai patroli’ menghentikan laju kendaraannya di perempatan jalanan Yogyakarta.
Lampu merah sekitar 1-2 menit ia gunakan untuk berakasi.
“Hidup ini hanya sebentar, maka …..”
Lelaki berpakaian batik dan bersarung itu
bak Rendra di jalanan nan terik.
“Wahai kalian yang belum berpasangan,
janganlah …..”
Belakangan ini, Ahmad Tukiran Maulana
(32) memvariasikan pendekatan dan area dakwahnya. Dengan tetap menyandang
sebagai dai keliling, ia kini menjurus perempatan sebagai tempat efektif
menebarkan kebaikan.
“Awalnya saya prihatin karena di
perempatan Yogya banyak yang meminta-minta dengan hanya menggunakan kecrekan
dan lagu tidak jelas,” terangnya.
Inspirasi dari para pengemis di lampu
merah ia jadikan awal berdakwah di saat-saat menantikan lampu merah berganti
hijau. Bila sehari-hari ia membujuk dan menyerukan orang untuk berbuat baik
atau meninggalkan maksiat, di perempatan ia cukup berpuisi keras-keras dengan
bait yang dikreasikannya. Isinya tidak sembarang. Selain berima, juga memuat
pesan kebajikan atau larangan bertindak jahat. Bakat seninya selaku penikmat
wayang digalinya.
Maulana bukanlah ustad seperti pemilik
nama yang sama yang tengah beken di sebuah stasiun televisi. Maulana Yogya,
lelaki kelahiran Ponjong Gunungkidul, ini tidak sedang bergaya-gaya di kamera.
Ia memang mencari perhatian tapi bukan dalam rangka mendagel.
“Yang sudah baik banyak di dalam masjid
apa di luar masjid sana?” Tanyanya kepada saya retoris soal pilihannya untuk
lebih banyak berkiprah di jalanan.
Berteriak-teriak dengan puisi plus
bermuatan dakwah tentu bukan pekerjaan sepele. Ada beban psikis bagi yang tidak
terbiasa. Hanya mahasiswa baru yang tengah diplonco seniornya yang mau. Ini
karena terpaksa. Kalau tidak dipaksa, saya ragu. Berbeda dengan Maulana. Ia
siap disebut macam-macam. Orang gila, misalnya.
Tapi Maulana bergeming, ia punya dalih
kuat. “Itu risikonya. Wong Kanjeng Nabi saja disebut gila bahkan dilempari batu
saat di Thaif.”
Saya sendiri membayangkan betapa menjengkelkan
pengendara di samping Maulana bila hati belum siap. Hidayah yang tercermin dari
tarikan suara Maulana menjadi sia-sia hanya karena hati kita tengah sibuk
menghitung mundur angka penunjuk di perempatan. Konsentrasi kita ke depan,
bukan meladeni penyair kagetan.
Hebatnya Maulana, ia tidak membutuhkan
jamaah; bahkan di jalanan sekalipun. Ia cukup ‘memaksakan’ kata-kata amar
makruf nahi mungkar. Adapun perkara didengar atau tidak, dipraktikkan atau
tidak, itu berkaitan dengan isi hati pendengarnya. Tugasnya, katanya, hanya
menyampaikan perintah agama.
Tidak selalu tudingan miring, kadang
sahut bersahut dengan pengendara lain terjadi. Seperti suatu hari ketika ia
lafalkan puisi untuk tidak berboncengan dengan lawan jenis bukan mahram.
Seperti mengerti apa yang dimaksud dengan puisi Maulana, seorang lelaki di sisi
motornya menimpali. “Gue ini pasangan sah tahu?!”
Menjalani dai jalanan bagi Maulana
tampaknya sebuah kehormatan. Tidak ada rasa malu apalagi risih. Kiprahnya
melampaui keterbatasan fisiknya. Lebih cekatan dibandingkan para aktivis dakwah
sekalipun. Dengan izin Allah, seorang diri tanpa embel-embel lembaga ia bisa
dirikan mushala di lokasi pengungsian korban erupsi Merapi 2010. Kalaulah hari
ini ia mulai dilirik media ibukota, saya merasa itu sebuah pertolongan Allah
agar kebaikan yang dilakukannya menebar di tempat lain. persis seperti yang
diharapkannya selama ini.
“Saya tidak butuh pengikut. Yang lebih
penting adalah bagaimana cara-cara yang saya lakukan bisa dikerjakan di tempat
lain.”
Ya, Maulana ingin para dai berkeliling,
berpatroli di luar-luar mimbar masjid. Tidak lagi berharap ada amplop dan
jemputan mewah, tapi kesiagaan menanggung malu dan risih ketika berhadapan
dengan banyak orang di jalan. Melihat Maulana berpuisi di kemudi bebeknya,
teringatlah saya pada sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan
Muhammadiyah. Tanpa canggung, Kiah Dahlan menyerukan orang-orang di Stasiun
Tugu untuk mengerjakan shalat. Dulu Kiai Dahlan mencoba, kini Maulana juga
bergerak. Berikutnyakah Anda?

Paling
tidak, ketika ada seorang lelaki berperawakan kurus di lampu merah Yogyakarta
sibuk berteriak membacakan puisi di motornya, kita mendoakannya untuk terus
istiqamah.


Sumber tulisan dan gambar: yusufmaulana.com
Judul asli, Dakwah Rendra dari Ponjong,
judul di atas saya ambilkan dari buku penulis yang sama, Tong Kosong Indonesia
Bunyinya.

– See more at: http://pcpmminggir.blogspot.com/2014/02/seruan-ahmad-dahlan-dari-ponjong.html#sthash.zZWcYXpe.dpuf

Lelaki dengan motor bebek bertuliskan
‘dai patroli’ menghentikan laju kendaraannya di perempatan jalanan Yogyakarta.
Lampu merah sekitar 1-2 menit ia gunakan untuk berakasi.
“Hidup ini hanya sebentar, maka …..”
Lelaki berpakaian batik dan bersarung itu
bak Rendra di jalanan nan terik.
“Wahai kalian yang belum berpasangan,
janganlah …..”
Belakangan ini, Ahmad Tukiran Maulana
(32) memvariasikan pendekatan dan area dakwahnya. Dengan tetap menyandang
sebagai dai keliling, ia kini menjurus perempatan sebagai tempat efektif
menebarkan kebaikan.
“Awalnya saya prihatin karena di
perempatan Yogya banyak yang meminta-minta dengan hanya menggunakan kecrekan
dan lagu tidak jelas,” terangnya.
Inspirasi dari para pengemis di lampu
merah ia jadikan awal berdakwah di saat-saat menantikan lampu merah berganti
hijau. Bila sehari-hari ia membujuk dan menyerukan orang untuk berbuat baik
atau meninggalkan maksiat, di perempatan ia cukup berpuisi keras-keras dengan
bait yang dikreasikannya. Isinya tidak sembarang. Selain berima, juga memuat
pesan kebajikan atau larangan bertindak jahat. Bakat seninya selaku penikmat
wayang digalinya.
Maulana bukanlah ustad seperti pemilik
nama yang sama yang tengah beken di sebuah stasiun televisi. Maulana Yogya,
lelaki kelahiran Ponjong Gunungkidul, ini tidak sedang bergaya-gaya di kamera.
Ia memang mencari perhatian tapi bukan dalam rangka mendagel.
“Yang sudah baik banyak di dalam masjid
apa di luar masjid sana?” Tanyanya kepada saya retoris soal pilihannya untuk
lebih banyak berkiprah di jalanan.
Berteriak-teriak dengan puisi plus
bermuatan dakwah tentu bukan pekerjaan sepele. Ada beban psikis bagi yang tidak
terbiasa. Hanya mahasiswa baru yang tengah diplonco seniornya yang mau. Ini
karena terpaksa. Kalau tidak dipaksa, saya ragu. Berbeda dengan Maulana. Ia
siap disebut macam-macam. Orang gila, misalnya.
Tapi Maulana bergeming, ia punya dalih
kuat. “Itu risikonya. Wong Kanjeng Nabi saja disebut gila bahkan dilempari batu
saat di Thaif.”
Saya sendiri membayangkan betapa menjengkelkan
pengendara di samping Maulana bila hati belum siap. Hidayah yang tercermin dari
tarikan suara Maulana menjadi sia-sia hanya karena hati kita tengah sibuk
menghitung mundur angka penunjuk di perempatan. Konsentrasi kita ke depan,
bukan meladeni penyair kagetan.
Hebatnya Maulana, ia tidak membutuhkan
jamaah; bahkan di jalanan sekalipun. Ia cukup ‘memaksakan’ kata-kata amar
makruf nahi mungkar. Adapun perkara didengar atau tidak, dipraktikkan atau
tidak, itu berkaitan dengan isi hati pendengarnya. Tugasnya, katanya, hanya
menyampaikan perintah agama.
Tidak selalu tudingan miring, kadang
sahut bersahut dengan pengendara lain terjadi. Seperti suatu hari ketika ia
lafalkan puisi untuk tidak berboncengan dengan lawan jenis bukan mahram.
Seperti mengerti apa yang dimaksud dengan puisi Maulana, seorang lelaki di sisi
motornya menimpali. “Gue ini pasangan sah tahu?!”
Menjalani dai jalanan bagi Maulana
tampaknya sebuah kehormatan. Tidak ada rasa malu apalagi risih. Kiprahnya
melampaui keterbatasan fisiknya. Lebih cekatan dibandingkan para aktivis dakwah
sekalipun. Dengan izin Allah, seorang diri tanpa embel-embel lembaga ia bisa
dirikan mushala di lokasi pengungsian korban erupsi Merapi 2010. Kalaulah hari
ini ia mulai dilirik media ibukota, saya merasa itu sebuah pertolongan Allah
agar kebaikan yang dilakukannya menebar di tempat lain. persis seperti yang
diharapkannya selama ini.
“Saya tidak butuh pengikut. Yang lebih
penting adalah bagaimana cara-cara yang saya lakukan bisa dikerjakan di tempat
lain.”
Ya, Maulana ingin para dai berkeliling,
berpatroli di luar-luar mimbar masjid. Tidak lagi berharap ada amplop dan
jemputan mewah, tapi kesiagaan menanggung malu dan risih ketika berhadapan
dengan banyak orang di jalan. Melihat Maulana berpuisi di kemudi bebeknya,
teringatlah saya pada sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan
Muhammadiyah. Tanpa canggung, Kiah Dahlan menyerukan orang-orang di Stasiun
Tugu untuk mengerjakan shalat. Dulu Kiai Dahlan mencoba, kini Maulana juga
bergerak. Berikutnyakah Anda?

Paling
tidak, ketika ada seorang lelaki berperawakan kurus di lampu merah Yogyakarta
sibuk berteriak membacakan puisi di motornya, kita mendoakannya untuk terus
istiqamah.


Sumber tulisan dan gambar: yusufmaulana.com
Judul asli, Dakwah Rendra dari Ponjong,
judul di atas saya ambilkan dari buku penulis yang sama, Tong Kosong Indonesia
Bunyinya.

– See more at: http://pcpmminggir.blogspot.com/2014/02/seruan-ahmad-dahlan-dari-ponjong.html#sthash.zZWcYXpe.dpuf